MONEY & ME

October 16, 2020

 


Kalau mau punya sesuatu kudu ngutang, begitulah doktrin awal saat aku masuk kerja. Awalnya aku percaya dan hampir mengikuti jejak kehidupan seperti itu. Sampai setahun yang lalu aku belajar, ada yang salah dengan pola pikir orang-orang kantor bahkan mungkin lingkunganku terhadap keuangan.

Selama aku bekerja 4 tahun terakhir, 3 tahunku dihabiskan dengan..

Setahun pertama gajiku hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan pokok, jadi boro-boro mau nabung apalagi menyenangkan diri sendiri. Dua tahun setelahnya, gajiku naik namun menjadikanku terjebak dalam middle trap. Gaji naik, gaya hidup ikutan naik. Lagi, tidak ada tabungan, karena mindset ngutang masih melekat dalam benakku.

Sampai akhirnya tahun lalu, bertemu seorang teman yang berbaik hati mau menamparku. Wait, nggak salah Pit? Namparnya pake kata, kagak pake tangan.

“Sampean itu kerja ngatur duit kantor kok nggak bisa ngatur duit sendiri.”

Jedeeerr!! Kek disamber petir, kek makan samyang pake boncabe level 100, pedesnya bikin mo meninggal. Tapi kalau nggak dibilangin kayak gitu, aku sendiri nggak akan memulai menata keuanganku dengan baik, sampai hari ini.

Mengenal Literasi Keuangan

Sautan pedas tadi mengantarkanku belajar literasi keuangan, aku baca beberapa buku, dan mengkonsumsi podcast dari beberapa financial planner seperti Prita Ghozie, Ligwina Hananto, Safir Senduk, dan juga dapat insights dari beberapa influencers atau content creators seperti Andrea Gunawan, Jonathan End dan Fellexandro Ruby.

Ilmu dari mereka membantuku untuk mengatur keuangan dengan baik, selain itu aku mendapatkan perspektif baru yang selama ini belum pernah aku dapatkan di sekolah atau lingkunganku tentang keuangan.

Hemat pangkal kaya, peribahasa yang selama ini aku kenal sejak kecil, aku rasa tidak tepat sepenuhnya. Kalau hidup hemat tapi tidak tahu cara mengelola uang, berarti ada yang salah juga. Karena faktanya, banyak orang yang rela mengkonsumsi indomie tiap hari demi iphone, tapi nggak kebeli juga, yang ada malah usus buntu. Healah, bayar rumah sakit rumongsone murah?

Jadi apa aja sih yang aku dapat dari orang-orang kece tadi?

Uang adalah alat tukar dan roda penggerak ekonomi. Secara garis besarnya begitu. Kita sebagai manusia di dalamnya, sebagai konsumen yang menggunakan uang, mendapatkan dampak secara psikologis atas penggunaannya.

Aku pernah berada dalam middle trap dan FOMO (fear of missing out). Punya uang 5 juta di rekening, bawaannya pingin traveling, pokoknya ada duit dikit aja pinginnya traveling. Sebenernya nggak ada yang salah, tapi akunya nggak bijak.

Setelah mengumpulkan cukup ilmu dan mulai mempraktikkannya, keuanganku membaik. Aku mengecek cash flow ku, membuat budgeting, membuat pembukuan ala-ala untuk bahan evaluasi, dan merencanakan tujuan investasiku dalam jangka pendek dan menengah. Untuk jangka panjang masih OTW, hehe..

Namun esensi utama dari semua ini adalah..

Secara psikologis aku lebih memahami, what I need and what I want. Literasi keuangan mengajarkanku bahwa hidup itu secukupnya aja, jangan tamak. Jadi berasa lebih mindful aja gitu untuk menggunakan uang dengan bijak.

Apakah teman-teman sudah mulai berkenalan dengan literasi keuangan? Mungkin ada yang udah expert di sini? Let me know..

Baca Artikel Populer Lainnya

31 komentar

  1. Saya belum tahu apakah sudah berkenalan dengan literasi keuangan atau tidak, soalnya kalo dapat uang selalu aku kasih istri, biar istri yang atur.

    Memang kadang godaan kalo punya duit itu tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Misalnya sudah punya hape Samsung masih lumayan bagus tahun 2018, tapi lihat hape model baru kok masih pengin juga.πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. mas agus mirip si partner, dia g tau urusan duit. cuman imbasnya lumayan bikin geregetan juga, kalau pas ada gawean, dia g ngitungin labanya. akhirnya aku ajarin biar melek urusan duit.

      kalau ada duit, beli deh mas, gpp.. πŸ˜‚

      Delete
  2. Saya sudah 7 tahun belakangan ini mulai fokus atur keuangan, mba πŸ˜† hehehe. Sampai niat pakai jasa orang yang bergerak pada bidang keuangan untuk ditata ulang keuangannya serta belajar bagaimana mengelola uang πŸ™ˆ

    Kalau saya dulu tujuannya agar bisa hidup nyaman dan tenang tanpa kekurangan. Ternyata salah satu caranya adalah be mindful setiap pakai uang (sama seperti yang mba Pipit tuliskan). Hehe. Saya diajarkan untuk paham nggak cuma bagaimana menabung dan investasikan uang, tapi juga bagaimana menggunakan uang yang saya punya untuk membuat hidup saya senang tanpa harus kekurangan. Jadi yang diubah memang mindset-nya πŸ˜‚ maklum dulu saya termasuk boros. Kalau ada uang why not digunakan. Tapi nggak pikir panjang πŸ€ͺ -- setelah belajar, jadi lebih ada rem-nya karena pola pikir sudah diubah 😁

    Semangat yah mba, semoga ke depannya, keuangan mba Pipit semakin moncer. Bisa senang-senang namun bisa menabung pula 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. wowww!!
      kereeeenn!!!! 7 tahun loh!
      jadi makin semangat buat menjalankan pengaturan keuangan.

      bener banget Mbak Eno!
      masing-masing individu emang punya tujuannya sih, tapi secara gamblang pastinya pingin merdeka secara finansial.
      Jadi kalau mau ngapa-ngapain udah g bingung lagi urusan duit.
      sesederhana belanja skincare g pake babibu tebas aja, asal budgeting nya oke.

      aamiiin..
      makasih Mbak Eno! πŸ’•

      Delete
  3. Aku pertama kali main ke sini dan langsung dapet ilmu yang bagus gini πŸ™ˆ

    Kayaknya kebanyakan dari kita merasakan yaa apa yang namanya gaji naik, gaya hidup juga naik. Misal dulu gaji pas-pasan masih makan seadanya, jarang ke mall, ga nonton bioskop pun ga apa-apa.. Tapi setelah punya penghasilan lebih besar kok malah bisa kekurangan πŸ™ˆ

    Memanglah perasaan FOMO itu bikin kita jadi sulit nabung.

    Aku sendiri belum pernah coba budgeting dan ngatur keuangan dengan benar, tapi aku selalu usahakan menabung di awal, supaya uang tabungan ga terganggu sama keperluan dan jajan ini-itu. Walaupun kadang kalo pengin jajan yang cukup menyayat dompet tetep ngorek tabungan sih huhu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo halo Kak Eya!
      Makasih atas kunjungannya!!

      Sifat dasar manusia kali ya, karena diberi fasilitas (uang lebih), jadi keinginan yang dulu-dulu belum tercapai akhirnya bisa terwujud karena punya uang. Wajar lah.. asal g bablas, aku cukup 2 tahun aja kebablasan πŸ˜†

      Gpp Kak Eya, yang penting kita udah punya habit buat saving money. Habit nabung adalah koentji!

      Delete
  4. Awal kerja juga saya gini. Bawaannya pengen beli ini itu, gak mikir buat nabung dulu. Untungnya sih gak lama, terus jadi bikin tabel pengeluaran dan pemasukan selama beberapa bulan dan liat hasilnya. Ternyata banyak pengeluaran yang kalau gak kebeli juga gak papa. Dari situ belajar lagi ngatur keuangan dan ngatur nafsu. Sekarang sudah lumayan sih, beli benar-benar yang dibutuhin aja.

    ReplyDelete
    Replies

    1. kalau udah dicatet dan ketahuan hasilnya ngefek banget sih, aku juga pas mulai nyatet sempet kaget karena duit banyak keluar ke hal-hal g penting.

      Delete
  5. Bener juga ya kak Pit, saya kerja di kantor selalu mengatur keuanganya tapi uang sendiri tidak bisa diatur, mungkin karna uang sendiri jadi maen seenaknya aja kali ya.

    Yups bener kak, kita harus menerapkan management dan budget keuangan kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener!
      kalau uang sendiri g ada yang audit, jadi kebawa santai. eh terus bablas g bisa mengendalikan diri. 🀣
      yok yok, mulai diperbaikin duit kita, biar merdeka finansial!

      Delete
  6. Aku pribadi nggak tau pasti sih mbak apakah udah bener2 belajar literasi keuangan ini atau nggak, karena cuma mantau cerita-cerita di instagramnya Fellexandro Ruby. *untungnya aku follow dia jadi bisa melek dikit-dikit soal cara mengelola uang dan dunia kerjaπŸ˜….

    Akhir-akhir ini kesadaranku lebih kepada mindset yg mulai dibenahi supaya nggak boros dan mudah ngikutin hawa nafsu. Soalnya menyesal banget skrg gak punya penghasilan—karena freelance nggak jalan, jadi masih ngandelin uang dari ortu dan sulit nabung karena uangnya dipake untuk sehari-hari dan ya karena nggak ada pemasukan huhuhu. Padahal setahun kemarin buatku lumayan jaya banget, kuliah sambil kerja, dapet gaji iya, uang jajan iya, dapet uang saku dari beasiswa iya, tapi uangnya gak ada yg nyisa di tabungan karena laper mata terus😫. Sekarang udh bisa ngerem untuk nggak beli apa2 yg sifatnya nggak penting, mau coba nerapin hidup minimalis juga. Semoga bisa konsisten sampai nanti naik ke fase hidup yg berikutnya😫🀧.

    Semoga mbak Pipit juga bisa lancar terus keuangan dan pekerjaannya yaa, Aamiin. Semangat mbak Pipit!πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mbak Awl!
      Gimana kabarnya? Semoga tugas kemarin lancar yaaaa..

      Untung kita dapat sumber insights dari Mas Ruby, lumayan Mbak Awl. Setidaknya kita g buta-buta amat ngurusin duit.

      It’s ok, kadang kalau g ngelewatin journey kayak gini, kitanya juga suka gampangin ntar. Sekarang udah ada pengalaman kebablasan, berarti tinggal di manage buat dapat pengalaman punya keuangan yang sehat.

      Makasih Mbak Awl..
      Kamu juga ya, semoga sukses dan tercapai buat menjalankan gaya hidup minimalis πŸ’•

      Delete
  7. Kebetulan banget kemarin saya baca dikit tentang literasi keuangan cuma belum begitu banyak infonya. Terus kalau masalah nabung, alhamdulillah saya sudah melakukannya karena memang bukan orang yang terlalu konsumtif juga, pemasukan pengeluaran pun dicatat selengkap mungkin. Cuma yang lagi saya rencanakan lebih ke belajar investasi, karen kalau lama kelamaan uang hanya ditabung juga tidak begitu baik, apalagi di bank. Saya pernah baca artikel yang bilang begitu soalnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari apa yang aku dapat, sama seperti yang kamu utarakan juga.
      Menabung di bank tidak sama dengan investasi. Karena beberapa hal seperti suku bunga, biaya admin, dsb membuat tabungan di bank tidak akan memberikan untung. Kalau kata Ligwina Hananto, naro duit di bank itu kayak numpang parkir.

      Delete
  8. AKUUU!!! Aku fansnya materi keuangan Prita Ghozie dan Ligwina Hananto <3 enak banget beliau berdua menyampaikannya santai, practical, dan yang paling penting...nggak nakut-nakutin.

    ReplyDelete
  9. Saat awal aku mengenal seputar keuangan juga dari Prita Ghozie, Kak! Dari Youtubenya pertama kali. Habis itu, langsung coba praktikan dan bersyukurnya sekarang udah lebih baik dari sebelum mengenal seputar keuangan. Perubahan yang aku rasakan sekali setelah nonton video-video Kak Prita, aku jadi lebih melek dan mengerti apa itu investasi dan jenis-jenis apa saja serta budgeting dll. Bersyukur bisa belajar sedini mungkin sebelum nanti semakin lama semakin keterusan borosnya πŸ˜‚

    ReplyDelete
  10. Umikku PNS, dan apa yang dikatakan orang-orang ke kak Pipit tentang 'kalau ingin sesuatu, utang,' itu kenyataan banget di lingkungan PNS tempat umikku bekerja. Mungkin dipikir udah gajian tetap, dijamin pemerintah, jadi tiap bulan pasti bisa bayar.

    Umikku juga pernah cerita, ada beberapa temannya yang tiap bulan, di struk gajinya tinggal ratusan ribu dari jutaan. Kenapa? Ya buat bayar cicilan ini itu :)

    ReplyDelete
  11. Justru kebalikan sama saya tuh. Doktrin orang tua sejak kecil: 'kalau mau punya apa-apa, nabung. Jangan pernah utang atau kredit.' Sampai hari ini, saya mencoba menerapkan itu. Jadi mending enggak punya, daripada harus pusing dan cemas enggak bisa bayar tagihan ke depannya. Takut juga suatu waktu belum sempat bayar, keburu koit.

    Hmm, saya masih payah juga menata keuangan. Jadi kayaknya enggak bisa kasih pandangan tentang itu. Cuma jadi terkenang setelah baca, bahwa setahun pertama kerja saya juga balas dendam sama keadaan masa sekolah. Dulu enggak punya apa-apa, mau beli ponsel berkamera aja kudu nabung uang jajan setahun.

    Setelah kerja pertama kali, gaji pertama sok ngasih orang tua setengahnya, padahal gaji belum full. Sisanya belaga traktir beberapa teman. Konyolnya lagi, bulan kedua itu duit gaji langsung dijajanin BlackBerry. Akibatnya, bulan depan uang transport pas-pasan. Lebih sering bawa bekal terus, enggak pernah beli makanan enak. Pokoknya enam bulan selama terima gaji tuh payah banget mengontrolnya, kayak anak kecil yang enggak bisa pegang duit banyak. Begitu dapat langsung mau menghabiskan dalam sekejap.

    Bagusnya sih sempat ditegur teman juga, dibilang norak foya-foya terus. Mending duitnya buat kuliah, katanya. Terus saya manut begitu aja pula. Cari kampus yang terjangkau dan kelas karyawan gitu. Meski pada akhirnya niat itu enggak berjalan baik, entah kenapa ada rasa senang bisa lebih mengatur pengeluaran buat hal-hal yang berguna ke depannya. Bahaha. Saya bisa lebih hemat, terus ada hal khusus menyisihkan 10% penghasilan buat beli buku. Bahkan jika ada bazar silakan khilaf. Enggak apa-apa boros beli buku, toh itu buat menghibur atau membahagiakan diri sendiri setelah capek kerja. Tanpa disangka, buku-buku itu suatu hari juga berguna banget buat saya dalam belajar menulis. :D

    ReplyDelete
  12. Kalo urusan cara atur uang. Aku pernah diajarin mentorku, dan aku coba terapkan sampe sekarang. Penghasilan itu dibagi 3, pertama untuk kehidupan sehari-hari (makan, jajan, transportasi, uang bensin, pulsa, kuota dll). Bagian kedua untuk investasi atau bisa jg modal usaha, uang ini wajib"diputarkan"kembali ke bisnis. Ketiga, untuk dana darurat, Tidak boleh diganggu gugat kecuali emang sedang genting sekali. Nampaknya, hari ini, sebab pandemi, banyak orang yg telah memakai dana daruratnya yaa mbak :")

    ReplyDelete
  13. Halo mba Pipit, salam kenal :)

    Kalau saya sendiri sebenarnya bukan yang FOMO dan boros gitu, malah bisa dibilang hemat banget. Istilahnya kalau bisa senang dengan yang lebih murah kenapa harus bayar lebih mahal.

    Tapi sejujurnya, untuk tujuan keuangan, saya sendiri masih bingung. Jarang punya keinginan, takut terikat sama hal-hal yang berbau bendawi *eh ada ga ya kata ini :))*, belum lagi kalau sudah beli sesuatu nanti bingun mau taruh di mana, maintenance-nya gimana, kalau sudah lewat masa pakai apakah akan hanya nambah2in sampah aja? Jadinya malah tambah ga minat belanja, deh... ^^"

    Sebenarnya bisa digunaka buat traveling gitu kan ya... tapi selain sekarang sedang pandemi, ada masa-masa saya mageran dan senangnya bobo di rumah aja... hahaha

    ReplyDelete
  14. Kalo punya banyak uang emang jadi banyak godaan juga.
    Jadi pengen beli banyak barang, padahal belum tentu juga dipake.

    Karena itu pengelolaan keuangan itu penting banget. Kalo kagak, uangnya cuma numpang lewat doang.

    ReplyDelete
  15. Haha..
    kebetulan banget, baruu aja aku ngefollow akun soal keuangan gitu di IG, nama akunnya @mendakikembali , baru nemu.. hasil rekomendasi dari akun lain yg kufollow sih, soalnya ya akhir-akhir ini ya.. itu.. ingin juga mengatur keuangan sendiri, kok tiap bulan ga nyisa aja, masa mau gitu terus...
    sekarang, seenggaknya pgn tau aja tiap bulan itu gedenya buat apa, jadi kedepannya bisa diatur lagi.

    trus, contoh dari investasi jangka pendek atau jangka menengah itu seperti apa ya?
    akupun ingin semacam investasi gitu tp bingung jg, soalnya ga banyak jg uang dinginku.

    eh...kok banyak nanya gini yaa, hahaha...
    maap...maap...

    blognya seru, enak bacanya...
    Thank you Pipit!

    adynura.wordpress.com

    ReplyDelete
  16. awal pertama kali kerja aku juga seperti itu, kak. Rasanya ingin semua dibeli aja gitu. Dulu tuh rasanya pengen beli apa-apa itu harus aja terlaksana. Ujung-ujungnya jadi ngutang juga (kredit). Kaya motor lah contohnya, padahal kalo sabar beberapa bulan aja kan sebenarnya bisa beli cash langsung. Tapi itu dia kan hawa nafsu gak bisa ditahan. Akhirnya setahun setengah harus aku cicil tiap bulan dan itu sangat membosankan.

    Sepertinya aku belum sampai kenalan dengan literasi keuangan, tapi sekarang ini aku jadi lebh bijak aja daam membeli barang-barang yang aku ingin. aku jadi dapat memilah lagi yang mana yang lebih penting, yang memang seharusnya aku beli

    ReplyDelete
  17. mindset ngutang buat gaya hidup memang jadi salah satu kebudayaan nasional bangsa kita
    aku pun tak memungkiri ketika kepincut kredit barang tertentu yang sebenarnya engga butuh butuh banget

    tapi lama lama kok ya mikir masak hidup buat ngutang makanya sekrang lebib nahan diri aja pas mau beli ini itu
    kalau bisa sih ditabung entah dalam bentuk emas atau tabungan lain
    jaga jaga aja klo ada hal kepepet

    ReplyDelete
  18. Aku juga baru belajar literasi keuangan mbak pipit. Mulai rajin catat pengeluaran, alokasi anggaran, nabung, dan investasi.

    Selain itu juga belajar mindset-nya juga. Ga boleh boros, ga boleh merasa kekurangan, dan syukuri yang ada. Cukup berarti juga mindset2 seperti itu. Biar keuangannya tetap terkendali..hehehe

    ReplyDelete
  19. Hmm gtu ya, literasi keuangan .. ..
    Penting sepertinya, apalagi jaman resesi saat ini #fiuh

    ReplyDelete
  20. Keuangann saya juga masih ngos-ngosan. Apalagi pandemi ini, kuliah online bikin uang jajan jadi seret. Literasi keuangan sudah banyak di YouTube, kalo melek dikit bisa ngerti yang kecil-kecil macam prinsip,"lebih besar pemasukan daripada pengeluaran". Ah, ini sangat menbantu untuk mengontrol pengeluaran

    ReplyDelete
  21. Dulu masih single, saya beralasan emang gajinya pas buat makan dan bayar kos aja sih, tapi setelah saya liat konten di yutub, dia bisa nabung di zaman now, dengan gaji 2 juta aja, saya jadi kejewer banget!

    Dulu saya nggak bisa nabung karena gajinya pas itu, sekarang nggak bisa nabung karena selalu kepake.
    Tapi sejujurnya, saya paling boros tuh di makanan.
    Apalagi kalau anak-anak minta jajan, udah paling lemah saya tuh :D

    ReplyDelete
  22. Pas kuliah, aku bener-bener nggak ada tabungan. Cuma uang jajan dari orang tua, setelah itu habis karena nggak ada pengelolaan sama sekali.

    Lulus kuliah, pas awal kerja, aku pun masih kaget karena udah megang uang sendiri yang mana bukan uang dari orang tua. Disitu pun aku masih foya-foya, alhasil kok setiap akhir bulan seret banget. Akhirnya aku belajar tentang konsep financial planning 50,30,20 dan belajar dari Mbak Prita Ghozie juga. Udah hampir 1.5 tahun aku terapin dan Alhamdulillah, setiap mama pinjem uang aku selalu bisa bantu. Atau ketika aku harus ke dokter yang biayanya luar biasa, aku masih bisa makan dan beli apa yang aku inginkan.

    Kuncinya emang harus ada niat dan ngatur gaya hidup sih

    ReplyDelete
  23. Belum mbak pipit, aku belum pernah membaca buku tentang literasi keuangan.. mungkin itu kenapa aku masih ceroboh dengan uang haha..sampe sampe aku balik ke tempo dulu dengan membeli celengan dari tanah liat supaya bisa lebih mindful dengan keuangan masa depan haha

    Aku setuju banget mbak, mindfulness itu penting banget ya di berbagai lini kehidupan, begitu juga di masalah keuangan. Topiknya menarik banget mbak Pipit. Terima kasih sudah berbagi πŸ’•

    ReplyDelete
  24. Mba Pipit, akupun sama kayak kamu dulunya :). Awal kerja tp ga bisa nabung. Foya2 Mulu. Traveling trus kebanyakan. Akhir bulan pake CC, Krn uang udh abis :p. Aku mulai melek, setelah nikah :).

    Di situ baru mulai belajar ngatur keuanganku dan suami. CC aku tutup, ga mau pake lagi. Pelan2 yg aku urusin udh pasti lunasin CC. Setelah itu aku fokus Ama emergency cash utk 12x pengeluaran. Alhamdulillah udh terkumpul , trus fokus skr ini investasi JK pnjang dan pendek. Jd tiap dpt income, yg aku pikir dulu, utk budget investasi. Baru setelah itu tabungan traveling dan kebutuhan lainnya :). Yg pasti soal begini hrs konsisten sih. Akupun dulunya ngatur keuangan kantor. Makanya begitu mikir kenapa ga bisa ngatur keuangan sendiri itu memang makjleeeb

    ReplyDelete

If you have no critics you'll likely have no succes ~Malcolm X