Childfree & Happy Book

September 23, 2021



Aku nggak nyangka setelah baca buku Childfree & Happy, isu ini santer diperbincangkan di jagad medsos. Jodoh sama aku kali ya biar niatanku nulis soal buku Childfree & Happy terealisasi karena isu itu.

Sebenernya isi postingan ini bukan review dari buku Childfree & Happy, tapi lebih ke what I get from this book. Cuman sebelum membahas itu aku mau memberikan informasi tentang buku yang ditulis oleh Victoria Tunggono.

Seperti yang aku tuliskan sebelumnya, buku ini berjudul Childfree & Happy, sebuah buku yang menceritakan pengalaman penulis sebagai seseorang yang memilih childfree (hidup bebas anak). Bukunya termasuk tipis, jadi enak buat dibawa kemana-mana. Isinya terdiri dari cerita penulis dan orang-orang yang memutuskan childfree, serta tantangan yang dihadapi.

Selain itu aku menemukan insight baru seperti childfree dan childless, ada perbedaan antara 2 hal ini. Aku baru tahu kalau orang atau pasangan yang ingin memiliki anak tapi belum dikaruniai dikategorikan childless, sedangkan childfree adalah keadaan sadar penuh untuk tidak punya anak walaupun kondisi memungkinkan.

Yang bikin aku tertarik untuk membaca buku ini karena penulisnya orang Indonesia yang you know, sungguh suatu keberanian untuk menulis buku dengan tema “TABU” buat sebagian besar masyarakat kita.

Sepertinya cukup untuk bagian buku, aku mau ngelanjutin cerita dari what I get from this book;

Pertama, respect. Memilih untuk childfree di negara kultur timur tidaklah mudah. Narasi banyak anak banyak rejeki, pasti berkumandang terus menerus, seperti cuci otak kalau tugas manusia ya cuman berkembang biak. Nggak kebayang pelik batin ketika menyadari bahwa I don’t want to have a kid muncul tapi dianggap bertentangan khususnya oleh keluarga.

Kedua, perempuan punya hak atas tubuhnya. Entah ingin punya anak atau tidak, perempuan punya hak penuh untuk mengambil keputusan itu. Keputusan atas tubuh perempuan bukan terletak pada orang tuanya, pasangannya, atau masyarakat, tapi pada dirinya sendiri.

Ketiga, nilai seorang perempuan bukan terletak pada rahimnya. Sistem membuat perempuan berpikir bahwa ia tidak berharga karena tak mampu memberikan keturunan. Padahal integritas dan kemampuan perempuanlah yang bisa dijadikan acuan. Nggak habis pikir saat lingkungan menganggap perempuan yang tidak punya anak sama dengan tidak sukses.

Keempat, being a mom is not for every woman. Pada akhirnya peran ibu bukan untuk semua perempuan. Sepertinya stigma bahwa semua perempuan di dunia ini ingin menjadi ibu salah. Ada berbagai keadaan yang akhirnya membuat seorang perempuan memutuskan bahwa menjadi seorang ibu bukanlah keinginannya.

Kelima, childfree bukanlah gaya hidup, childfree adalah pilihan. Ketika seseorang memutuskan untuk hidup bebas anak, ia sudah berpikir masak-masak konsekuensi dan resiko yang harus dihadapi. Nggak sekedar ngasal biar kelihatan edgy.

Dari kelima hal yang aku dapat tadi jadi keinget podcast di Inspigo yang lupa judulnya, sorry.. 😅 Jadi di podcast itu ada narasumber yang berbagi cerita tentang perjalanan dan transisi yang dialaminya sebagai perempuan. Transisi dari seorang perempuan lajang, menikah dan menjadi istri, selanjutnya menjadi ibu. Dalam ceritanya aku belajar bahwa transisi yang terjadi tidaklah mudah untuk dijalani, beliau sampai terkena depresi pasca persalinan atau PPD (postpartum depression), dan jujur itu lumayan membuatku berpikir masak-masak perkara anak.

Dan karena podcast itu aku gambrengin pembicaraan perkara anak sama Hyung. Again, perkara punya anak itu nggak gampang, and you know.. anak itu bukan barang yang bisa kita refund apalagi jadi alat penyatu hubungan. Kalau kata podcast Taboo Tuesday, stop making children your tools for therapy.

 

 

Baca Artikel Populer Lainnya

18 komentar

  1. Oh jadi bedanya childless sama childfree tuh itu. Kirain sama aja. Eh Pit btw, jangankan belum/nggak punya anak, belum/nggak nikah pun kalau perempuan itu juga dianggap belum sukses nggak sih menurut standar sebagian orang-orang di sini😅 susyeh😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca buku ini lumayan dapat insights dari hal-hal yang g aku tau.

      Well, kadang ngerasa g sih, perempuan nih kayak warga kelas 2. Pasti Endah inget Chef Juna pernah bilang kalau masalah anak terserah istri dia, semua orang muji dia. Tapi ketika seorang perempuan menyuarakan suaranya kayak Gitasav pas bilang kalau dia childfree, buseeett satu negara heboh. Like seriously, women are human being also!

      Delete
    2. Setuju Mba Endah.. Kayanya bukan cuma untuk prempuan deh. I do get this statement also.. Aku sering dpet pernyataan "Orang tuh bukan orang sepenuhnya kalau belum nikah dan punya anak..." Zzz.

      Delete
  2. Pertanyaanku sih satu ya.. Kenapa kultur dimari. Topik seperti ini dianggap taboo ya..? wkwk

    Aku sih soalnya mikir. Yaudah sih ngurus amat. Mau punya anak silahkan, nggak juga nggak masalah gitu kan. As simple as that.. Semua orang kan berhak ya atas pilihannya masing-masing. Standar kita belum tentu standar mereka, dan nggak wajib juga jadi standar orang-orang...

    Ini mah orang langsung dicap gagal begitu mutusin buat Childfree..

    Nggak paham aku tuh Mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak cuman kamu Bay, akupun penasaran atas latar belakang orang-orang yang rempong sama urusan orang lain.
      Lebih baik memahami koi-koi dan kucingmu yang lucu itu

      Delete
  3. Mungkin aku perlu sungkem Ama si penulis buku 😄. Childfree iu impianku dulu. Aku memang bukan tipe yg cocok jadi ibu sih. Kesabaran tipis, denger tangisan bayi aja langsung kesel. Dulu sebelum Ama pak suami sekarang, aku dan mantanku udh sepakat ga akan mau punya anak. Kami sama2 tipe yang ga bisa Deket Ama anak2. Kalo udh ketemu anak kecil, bawaanku langsung kaku. Giliran ada temen melahirkan, kalo yg lain pada gemas Coel coel si baby, aku mah liat dari jauh aja 😂. Palingan basa basi dikit ttg si bayi.

    Tapi ga jodoh sih Ama si mantan, eh ketemu pak suami, dia ternyata penyayang anak 🤣. Dan kami sempet putus pas ga ketemu kata sepakat soal anak.

    Cuma yaaaa, aku telanjur cinta mati kayaknya hahahaha. Akhirnya nekan ego, aku ngalah. Oke, fine, kita punya anak ntr, tapiiii pake 2 syarat. Aku minta babysitter utk mengasuh anak2, dan aku mau stiap tahun selalu ada jdwal liburan berdua DOANG tanpa dikintilin anak2 , minimal 10 harilah. Krn buatku refresh hubungan Ama pasangan itu wajib. Eh pak suami setuju 😄. Ya udah akhirnya nikah dan punya anak. Dia beneran cari babysitter buat anak2, so aku ga terlalu pusing sih dengan urusan mereka.

    Kalo mau jujur, anak2 LBH Deket Ama babysitte nya drpd Ama aku. Tapi ga masalah... Justru mereka tumbuh bagus Krn didikan si babysitter. Aku ga yakin bisa mendidik mereka sama baiknya kalo tanpa bantuan pengasuh.

    Jadi buat yg memang ga suka punya anak, jangan dipaksain lah. Bagi yg suka, jangan juga seenaknya aja ngejudge orang2 yg ga pengen punya. Pake dalil agama segala -_-. Toh kebahagiaan orang lain itu beda2. Aku pribadi memang LBH suka ga punya. Tapi Krn suami mau, Yo wislaah, itung2 tanda cinta wkwkwkwkw

    ReplyDelete
  4. Konsep Childfree adalah sebuah hal baru yang memang harus berhadapan dengan budaya/pemikiran/konsep lama.

    Bagi saya sendiri, tidak bisa dipandang sebagai 'PILIHAN" seorang wanita saja (kecuali dalam kondisi tertentu). Kecuali wanita itu memutuskan untuk tidak menikah atau hidup bersama orang lain, maka harus ada kompromi-kompromi dengan manusia lain.

    Tidak juga seharusnya dipandang sebagai BENAR atau SALAH. Pembahasan tentang manusia tidak bisa selalu dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat karena bagaimanapun, manusia lahir dalam kehidupan bermasyarakat, makhluk sosial.

    Kenapa saya bilang demikian?

    - Seorang wanita yang tidak menikah akan memiliki hak mutlak terhadap rahimnya dan bagaimana cara hidupnya. Ia boleh memilih manapun sesuai dengan tujuan hidupnya. Mau punya anak atau tidak, itu urusannya sendiri

    - Ketika ia menikah, haknya tidak lagi mutlak. Ia sudah melakukan perjanjian untuk hidup bersama dalam sebuah rumah tangga, yang bisa dipandang sebagai sebuah "perjanjian" dimana ada take and give di antara keduanya.

    Sang wanita tidak bisa mengatakan bahwa ini rahimnya adalah haknya mutlak setelah menikah tanpa mengatakannya di awal. Kecuali ia sudah mendapatkan persetujuan dari calon pasangannya, ia bisa menerapkan konsep childfree dalam kehidupan berumahtangganya.

    Kalau ia mengatakannya setelah menikah kepada pasangannya, maka hal itu berarti ia mungkin melakukan kecurangan dan merugikan pasangannya. Sebuah fakta bahwa menikah, kawin adalah cara manusia bereproduksi dan menghasilkan keturunan. Untuk itu butuh rahim wanita.

    Ini adalah sesuatu yang belum bisa dihindarkan mengingat belum ada cara lain untuk menghasilkan keturunan tanpa rahim wanita.

    Jika pasangannya baru mengetahui setelah menikah bahwa sang wanita tidak mau memiliki anak, tetapi si wanita bersikeras ia tidak mau punya anak tanpa mempedulikan "keinginan" dan "kebutuhan" dari pasangannya, maka ia bisa dinilai sebagai tidak adil, tidak jujur.

    Butuh budaya berpikir dan pengetahuan yang luas sekali terkait childfree. Jangan salah juga, bukan hanya di Budaya Timur saja pandangan ini masih sulit diterima bahkan di dunia Barat sekalipun masih mendapat tentangan. Memang, jumlah penganut childfree semakin banyak, tetapi banyak masyarakat di negara maju juga mempermasalahkannya.

    Bagi sebuah negara sendiri, jika masyarakatnya semakin banyak menganut childfree, maka hal itu akan berbahaya pada akhirnya. Jumlah penduduk tua bertambah terus, sedangkan penduduk muda akan menyusut. Pada akhirnya, mereka akan kekurangan tenaga kerja dan sebagainya. Hal ini akan berujung pada berkurangnya daya saing dan kemakmuran negara tersebut.

    Beberapa negara, seperti Cina sekarang bahkan mulai melonggarkan pembatasan jumlah anak dalam satu keluarga. Jika dulu hanya satu yang diperkenankan, maka sekarang sudah mencapai 3 orang. Alasannya? Ya yang di atas itu. Mereka tetap butuh rakyat untuk menggerakkan negaranya.

    Bisa terbayang kalau semua rakyat di sebuah negara menganut childfree. Hampir bisa dipastikan negara tersebut akan hilang dalam 60-70 tahun akibat tidak ada regenerasi.

    Sebuah negara pada akhirnya bisa memaksa rakyatnya untuk bereproduksi karena dalam hidup bernegara ada penyerahan sebagian hak individu kepada negara. Jika sebuah negara merasa "terancam" keberlangsungannya, ia bisa memaksa untuk melakukan hal yang diperlukan agar ia bisa bertahan.

    Berbicara childfree ada baiknya bukan sekedar dari satu sudut saja. Terlalu banyak sisi yang harus dipertimbangkan karena efeknya pada akhirnya bukan sekedar pembahasan hak wanita mau bereproduksi atau tidak.

    Jadi, hampir pasti pembahasannya akan terus berlangsung dari generasi ke generasi. Karena begitulah yang terjadi dalam masalah benturan pemikiran atau budaya. Tidak akan pernah berlangsung sebentar. Pertarungan ini akan berlangsung lama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mas Anton, terima kasih banyak atas komentar yang mas sematkan di postingan ini, bener-bener seru pas bacanya, jadi pingin cepet-cepet bales tapi ngelarin kerjaan dulu. Udah kelar, aku mau ikut nimbrung.

      Pada bagian pertama, apabila perempuan menikah dan dia nggak memberi tahu pasangannya kalau dia childfree, itu curang. Absolutely! Aku setuju.

      Ketika kasusnya pernikahan, baiknya kedua belah pihak melakukan screening sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, agar terbentuk transparansi dan trust serta kecocokan value. Aku juga menyarakan perempuan untuk paham dan tahu apa keinginannya. Aku berpikir seperti ini mas, kenapa pada akhirnya perempuan banyak yang nggak ngeh apa maunya? Kesannya latah. Salah satu faktornya adalah sistem dan kultur. Yang dilihat dan dicontohkan dari kecil ya itu, yaudah ikutin aja, tanpa mencoba kritis pada diri sendiri, do I want that?

      Again, I learn that marriage is a teamwork. Tim yang solid dibentuk dari transparansi, toleransi, dan kepercayaan satu sama lainnya.

      Terkait ketimpangan usia penduduk, jujur akika nggak siap kalau memberikan jawaban yang objektif. Cuman boleh lah sharing apa yang aku pikirkan terkait hal itu. Yang dicontohkan di komen Mas Anton adalah Cina, kita tahu Cina berideologikan komunis, yang mana secara tidak langsung, rakyat seperti properti milik negara. Aku mau berbagi cerita dari negara tetangganya Korsel yang berbeda ideologi.

      Aku pernah menonton video Asian Boss yang menyoroti usia produktif di Seoul terkait keinginan mereka untuk punya anak (kita ketahui kalau Korsel mengalami penurunan angka kelahiran juga). Bisa dibilang 98% menjawab tidak ingin memiliki anak atau bahkan menikah. Karena apa?

      Pemerintah gencar menyuruh warganya untuk bereproduksi, namun tidak berbanding lurus dengan penjaminan kesejahteraan nantinya. Banyak usia produktif di Seoul merasa, biaya hidup sangat tinggi dan takut tak mampu memberikan kehidupan yang layak apabila mereka menikah dan memiliki anak. Untuk dirinya aja susah, kok berani-beraninya punya anak dan dibawa susah juga. Bisa dibilang keadaan negara maju akan berimbas pula pada pola pikir masyarakatnya yang semakin kritis.

      Ketika diwawancarai, mereka bilang akan mempertimbangkan untuk menikah dan memiliki anak apabila pemerintah meregulasi kebijakan ekonomi dan memberikan kemudahan untuk masyarakat.

      Terkait mempertimbangkan segala aspek, pastinya banyak mas. Nggak cuman sistem dan kultur, ada bumi tempat tinggal kita yang sudah semakin tua dan sepertinya bakal bobrok karena krisis iklim mengancam. Dengan atau tanpa adanya childfree, sumber daya alam sebagai sumber utama kita menjalani hidup di sini bakal habis juga, bakal ada ketimpangan antara jumlah manusia dan sumber daya alam. Memikirkan kepunahan manusia karena tidak bereproduksi tanpa memperbaiki lingkungan, bukankah sama saja?

      Btw, sekali lagi terima kasih atas komentarnya, asli menyenangkan banget bales komentarnya Mas Anton!

      Delete
    2. Hahaha senang juga bisa begini lagi Pit bertukar pikiran dan pandangan.

      Betul memang kondisi setiap negara akan beda. "Transaksi" atau "kompromi" antara pihak "negara" dan "rakyat" akan diperlukan untuk menemukan titik temu yang menguntungkan keduanya. Tidak beda dengan hubungan antara suami dan istri di atas dimana harus ada kompromi dan negosiasi.

      Dalam kasus negara seperti Republik Korea yang demokratis, memang agak berbeda dengan di Cina. Meskipun demikian, yang harus disadari juga, sebebas bebasnya sebuah negara, institusi itu memiliki "HAK PAKSA" kepada rakyatnya. Konsep hak paksa ini akan selalu ada dan karena itulah sistemnya biasanya berjalan.

      Bukan hanya negara komunis dan sosialis yang memiliki hak ini, tetapi karena pada dasarnya semua negara memiliki hak itu. Ketika badan legislatif memutuskan aturan itu ada, maka peraturan itu akan melegitimasi dilakukannya HAK PAKSA. Walau saya sendiri tidak tahu bagaimana bisa "memaksa" orang untuk bereproduksi... hahahah tapi secara teori, pemaksaan negara terhadap rakyatnya bisa dilakukan semua negara dan bukan hanya negara komunis. Hanya prosedurnya saja yang berbeda.

      Kita sulit berbicara obyektif Pit dalam hal ini. Bagaimanapun data yang tersedia masih minim. 98% di Asian Boss rasanya kurang bisa dipercaya karena kalau itu sudah terjadi, hampir pasti pemerintah sudah akan ribut.. hahahahaha.. kalau 98% wanita korsel tidak mau punya anak, meski saya bukan ahli, saya berani bertaruh pasti sudah rusuh pemerintahnya.

      Terlepas dari adanya hak paksa tadi, hal ini hanya menunjukkan bahwa konsep Childfree bukanlah semata tentang wanita dan rahimnya. Pada akhirnya masalah ini akan menjadi krusial karena menyangkut keberlangsungan umat manusia, negara.

      --nyambung karena kebanyakan kata---

      Delete
    3. Itulah mengapa saya menyebutkan bahwa ketika berbicara tentang Childfree, tidak akan mudah. Tidak bisa hanya dipandang dari sisi wanita saja karena intinya berkaitan dengan umat manusia juga. Masih akan panjang jalan perebatan terkait hal ini karena memang menyentuh inti dasarnya.

      Poin Pipit soal apa kepunahan karena childfree dan lingkungan, sebenarnya agak berbeda.

      Ketika sebuah lingkungan rusak, maka ia bisa diperbaiki. Ditemukan alternatif lainnya, seperti yang sedang diusahakan dengan energi alternatif dan sejenisnya. Penerbangan luar angkasa dibuat karena banyak pemimpin negara sudah memperlihatkan bahwa bumi suatu waktu akan full dan tidak bisa lagi nyaman untuk ditinggali.

      Ada banyak tindakan yang sebenarnya sudah dilakukan untuk menemukan solusi. Memang masih jauh dari ideal untuk berhasil, tetapi tindakan itu sudah ada dan dilakukan oleh banyak pihak di seluruh dunia.

      Itulah kenapa saya lihat sebagai hal yang berbeda. Childfree jika dilakukan terus menerus dan semakin massive oleh banyak orang akan memastikan manusia punah.

      Kerusakan lingkungan kalau tidak diperbaiki pada akhirnya akan membawa kepunahan juga. Namun hal itu sudah disadari oleh banyak pihak dan ada tindakan/usaha usaha pencegahan agar tidak mengarah kesana.

      Nah, sudahkah para pencetus/penggagas childfree berpikir ke arah sana dan melakukan tindakan-tindakan untuk melakukan childfree tetapi tetap bisa menghindarkan umat manusia dari kepunahan? Sudahkah para penggiat childfree memasukkan perhitungan tersebut dalam pemikirannya, selain masalah hak wanita dan rahimnya?

      Itulah yang saya pikir bahwa isu lingkungan dan childfree saya pandang berbeda. Jauh berbeda. Lingkungan tidak memastikan kepunahan, masih ada variable lain, seperti kalau tidak dikelola dengan benar.

      Tetapi, childfree kalau dilakukan secara massive pasti memastikan kepunahan karena manusia tidak lagi memiliki keturunan. Apalagi kalau 98% wanita tidak mau punya anak.

      Saya sendiri pada dasarnya karena ini masih tataran teoretis dan meski sudah semakin banyak digaungkan (entah krn ingin ikut tren saja), masih belum terlalu memandangnya serius. Jadi, saya masih hanya bisa bilang, "It's your choice" Setiap orang punya pilihan jalan masing-masing.

      Hanya sesuatu yang bisa diprediksi bahwa banyak negara maju saja sudah merasa kerepotan ketika penduduk tuanya semakin banyak. Bisa dibayangkan ketika penduduk mereka menyusut drastis dan pasti akan ada langkah-langkah yang dilakukan untuk mengatasinya.

      Bagaimanapun itu adalah sebuah ancaman bagi keberadaan sebuah bangsa atau negara dan tidak akan dibiarkan begitu saja. Saya rasanya datanya agak jauh di bawah itu, cuma berapa besarnya sulit diprediksi.

      Bahkan di AS, biangnya kebebasan sekalipun, jumlah wanita yang childless hanya 14 persen dan yang childfree mungkin lebih rendah.

      Persentase yang menurut saya tidak mengusik pemerintah sebuah negara dan memaksakan kehendak. Entah kalau nanti benar-benar 98%.

      Soal latah? Benarkah hanya karena kultur dan sistem? Tidak kah juga dipertimbangkan hal lain, seperti keinginan mereka sendiri ya begitu. Manusia tidak dicetak seratus persen oleh sistem dan kultur karena dengan begitu menafikan kenyataan bahwa manusia bisa berpikir.

      Budaya terbentuk karena manusia dan setiap manusia akan selalu memiliki opsi untuk merubahnya. Perubahan kultur akan terjadi ketika banyak manusia memilih jalannya sendiri yang berbeda dengan kultur dimana mereka berada.

      Kamu sudah menunjukkan itu dengan kebengalan kamu. Padahal, kamu juga hidup dalam kultur yang sama dengan jutaan wanita lain. Kenapa kamu bisa bersikap kritis, yang lain tidak? Apakah karena kultur dan sistem? Padahal kalau menurut teori semua salah kultur dan sistem, maka seharusnya kamu juga ikut latah dan tidak akan berpikir kritis.

      Kok bisa? Itu karena kamu menyadari bahwa hidupmu adalah hidupmu yang harus kamu tentukan sendiri. Itu opsi yang kamu pilih. Dan, semua manusia punya opsi itu.

      It's always nice to have this kind of chat with you Pit..eh Ira.. hahahaha

      Delete
    4. Perlu aku ralat supaya nggak salah paham, hehe.. maksud dari 98% itu adalah jumlah responden yang diwawancari oleh Asian Boss di jalanan Seoul, mereka akan menjawab untuk tidak punya anak, bukan hanya perempuan aja tapi laki-laki juga mas. Kalau Korsel secara keseluruhan nggak sampai 98%, tapi sama seperti Cina, mengalami penurunan angka kelahiran.
      Hak paksa mungkin bisa terjadi, bahkan yang paling buruk kami perempuan bisa jadi sapi perah yang tugasnya cuman beranak, apabila terjadi bisa jadi pergolakan besar karena semakin kesini, dilandasi oleh hak asasi manusia, semua bisa bersuara dan bertindak sesuai value yang dipercaya. Pas ngomongin ini langsung keinget novel The Handmaid’s Tale sama film india Padmavaat. Merinding sendiri gue!
      Tapi aku yakin ini nggak akan terjadi, dalam artian jumlah manusia yang memilih childfree tidaklah sebanyak orang-orang yang ingin meneruskan keturunan. Banyak faktor yang membuat manusia berpikir seribu kali untuk jadi childfree, kalau ketemu 10 perempuan di Indonesia, aku yakin semua akan menjawab ingin menjadi ibu ketimbang childfree. Mencari orang yang childfree tuh kayak nyari jarum dalam Jerami.
      Nah yang ini, terkait sistem dan kultur pada perempuan dan setelahnya dibandingkan pada diriku. Aku ini langka mas, wkakaka..
      Maksudku, memilih untuk menjadi perempuan yang berani bersuara dan yakin pada pilihannya itu nggak mudah, bisa dibilang riskan untuk perempuan lainnya. Karena ia harus memilih, dikucilkan society atau menutup telinga dan maju terus meyakini value yang dia percaya.
      Kenapa aku bilang ada keterkaitannya pada sistem dan kultur? Karena aku merasakan sendiri bagaimana sejak remaja dibuat bingung oleh mereka. Sesederhana aku ingin nembak cowok, society bakal bilang, jangan! Itu nggak boleh karena kamu akan dicap agresif!
      Sistem dan kultur membentuk perempuan sebagai manusia yang harus memiliki sikap lemah lembut, tidak banyak protes dan jangan melawan, karena tugasnya hanya menunggu di rumah dan mengurus keluarga. Pokoke kalau ada perempuan nggak bisa diem, fix dia g sesuai harapan society. Pas baca buku Kartini, aku baru tahu kalau perempuan di era dulu (Jawa), harus dipingit sejak usia belasan tahun sebelum nantinya ia keluar karena akan menikah. Tidak ada kata tidak, pokoke manut, nurut.
      Dan hal ini (sikap perempuan yang kudu manut dan nurut) berlanjut sampai sekarang, bahkan yang mengajarkannya perempuan juga. Beruntung mama nggak kayak gitu. Mama ngajarin anaknya buat bersuara dan melawan, inget pas jaman adekku dipukul pake ranting pohon cemara sama anak umur 2 tahun, mama sebel banget ngeliat adekku tiap pulang main nangis, mama bilang, “Ko jangan menangis, balas itu Alif!” wkakaka.. Salah satu memori yang bikin diriku lebih berani dan kritis.
      Sekalinya balas komentar udah mirip bikin postingan blog nih! Sueruuuu!!!

      Delete
  5. Pit.. gue udah jawab panjang-panjang, eh pas diklik publish ngilang.. hikss....

    - case 98% : noted and understood dah

    - Hak paksa : well, pastinya akan terjadi penentangan dari rakyat dengan berbagai cara. Sebuah hal yang pasti terjadi jika HAK PAKSA dipakai. Itulah kenapa negara, terutama yang berbasis demokrasi akan menghindarkan hal ini terjadi dan lebih mengedepankan persuasi.

    Mereka tahu kalau HAK PAKSA dipakai akan terjadi pergolakan yang luar biasa. Namun, hal itu tidak menafikan Hak Paksa itu sendiri.

    Di dalam kondisi negara terancam keberadaannya sangat mungkin hak ini akan dipakai dengan berbagai resikonya.

    - Apakah childfree akan dianut semakin banyak orang : who knows? Tidak bisa diprediksi saat ini.

    Namun pergulatan tentang hal ini akan banyak terjadi karena berkaitan dengan naluri/insting dasar manusia. Jangan lupa yah manusia adalah primata yang punya insting dasar masing-masing, termasuk dalam urusan kawin mawin.

    Masalah nafsu, sex, cinta, semua adalah berkaitan dengan insting dasar.

    Seorang wanita pada dasarnya memiliki insting dasar untuk "menjadi ibu". Tidak bedanya, kera, gorilla,. Fisiknya dan hormon di dalam tubuhnya menunjukkan bahwa naluri melahirkan anak itu ada.

    Jadi, tidak sepenuhnya masyarakat itu salah kalau mereka memandang seorang wanita yang tidak mau memiliki anak sebagai "BERBEDA" dan "ANEH". Hal ini berkaitan dengan fisik, hormon, dan singkatnya "insting dasar"

    Apalagi, hal melahirkan itu sudah ada sejak manusia ada di bumi. Dari zaman ke zaman peran wanita, salah satunya adalah melahirkan keturunan. Dan, hal ini berkaitan dengan naluri umat manusia untuk bertahan hidup dan tetap eksis di dunia. Caranya adalah dengan memiliki keturunan, jadi tidak punah.

    Childfree akan mengancam naluri dasar manusia tuk tetap eksis. Setidaknya untuk saat ini dimana rahim buatan belum ada.

    Pandangan masyarakat yang "merendahkan" kepada wanita yang menganut childfree atau childless berkaitan dengan nilai-nilai yang berdasarkan budaya ribuan tahun. Tidak tepat menurut nilai-nilai sekarang yang mengedepankan hak asasi dan kebebasan, tetapi tidak bisa dinafikan begitu saja karena berkaitan dengan keberlangsungan umat manusia.

    Itulah mengapa saya sebut, tidak sesederhana yang terlihat dalam urusan childree

    Apakah banyak wanita akan memilih childfree atau menentang? Kemungkinan saat ini sih, masih banyak yang akan tetap mengedepankan insting dasarnya. Namun, kalau rahim buatan sudah ada, situasi sangat mungkin berubah lagi.

    Saya tidak bisa memastikan hal ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soal sistem dan kultur?

      Mau sistem atau kultur berubah, tapi tidak mau dicerca? Memang ada begitu sejarahnya perubahan terjadi tanpa pengorbanan?

      Kenyataannya, revolusi, perubahan, dan berbagai hal lain tidak pernah datang tanpa adanya korban.

      Berharap sistem berubah, tetapi tidak mau dicerca, yo wiss sakarepmu... hahaha

      Perubahan kultur akan memerlukan pengorbanan. Ibumu mengajarkan untuk berubah kepadamu. Ia memutus rantai tradisi dan budaya yang diterimanya di kala mendidik kamu dan adikmu. Ia pasti mengalami hinaan, cibiran, dan banyak hal lain.

      Saya tidak mengedepankan status, sekolah negeri bergengsi dan mendapatkan cibiran banyak dari tetangga. Mereka mempertanyakan mengapa untuk anak semata wayang saya tidak memilih sekolah "yang bagus" untuk putra semata wayang kami. Saya dipertanyakan mengapa tidak mendorong si Kribo mencoba masuk universitas negeri.

      Namun, saya mau memutus rantai budaya dan tradisi yang mengedepankan status materi, gelar, dan sejenisnya. Setidaknya dalam lingkungan kecil keluarga kami. Obsolete menurut saya.

      Itu opsi yang saya ambil untuk mengubah kultur dimana saya berada.

      Menyalahkan kultur sebagai pembentuk karakter memang mudah, ia tidak bisa komplen. Padahal, yang membentuk kultur adalah manusia juga. Mereka yang membuat sebuah kultur ada dari kebiasaan menahun.

      Mereka punya opsi untuk merubah kultur, tetapi karena merasa nyaman di dalamnya, mereka membiarkan ada.

      O ya jangan lupa bahwa kultur bersifat dinamis. Kultur akan bergantung pada orang-orang di dalamnya. Bukan tidak bisa berubah. Kalau orangnya mau kultur berubah, maka kultur akan berubah. Kalau tidak ya tidak.

      Untuk merubah kultur butuh orang-orang yang berani merubahnya, tentu dengan resiko. Berharap kultur berubah tapi semua diam saja dan main aman, ya sudahlah.. Memang lebih gampang menyalahkan kultur yang ga bisa bales... hahahaha

      Padahal, ya salah manusia manusianya juga. Kultur itu buatan mereka juga kok.

      Kalau Pipit mau masyarakat berubah, maka langkah yang tepat sudah dilakukan kok. Bersikap kritis. Tapi angan berpikir itu sudah cukup. Kultur / budaya tidak pernah berubah dalam waktu yang singkat.

      Kekritisan kamu akan merubah mungkin 1/20 kultur yang ada, proses itu dilanjutkan keturunanmu (yang dididik dengan caramu) 1/20 lagi, dan begitu seterusnya. Kecuali ada revolusi, maka perubahan budaya akan terjadi secara perlahan.

      Jadi, jangan kecewa kalau masyarakat sekarang belum bisa berubah seperti maumu. Lakukan saja terus dan kemudian serahkan tongkat estafet kepada keturunanmu.

      Ujungnya kalau dikau mengajut childfree, yo wis.. kamu tidak punya penerus pemikiranmu. Itu salah satu resiko dari childfree yah.. dan tidak pernah masuk hitungan karena kebanyakan mikir cuma soal hak doang...

      Iyah.. kayaknya malah sudah melebihi panjang posting di semua blog neh.. wkwkwkw

      It's nice to have a chat like this with you Pit.. always..

      Delete
  6. INI KOMENTAR DIATAS PANJANG BENER YAAAAA WKWKKW

    Sampe syok tengoknya :))

    Duh pengen komentar tapi ini sangat apa ya, panjang bahasannya.. Kalau aku memilih untuk punya anak, karena biar KK rame, masa iya cuma 2 baris..

    Tapi untuk yang memilih childfree, secara akal sehat aku mendukung! Karena susah bener jadi orangtua.. Dan belum tentu pula kita jadi orang tua yang baik..

    ReplyDelete
  7. ngomongin childfree di Indonesia itu hampir ngerinya sama ngomongin LGBT
    udah susah banget buat acc
    tapi ya emang kondisi sosial di negara kita memang belum bisa menerima pandangan semacam itu
    orang ya harus nikah, punya anak, punya rumah, bahagia dan (jadi PNS)
    tapi yg pasti tiap orang punya keputusan dan tanggung jawab atas hidupnya
    kalau udah milih ya kita hormati dan ybs juga konsekuen dengan keputusannya itu

    ReplyDelete
  8. weird, klo LGBT di buat sama dengan childfree. 2 issue yang berbeda tapi juga gak gak bisa di abaikan. Tapi, karena fokusnya ke Childfree issue, aku berpendapat jika keputusan tersebut harusnya tidak di ganggu oleh pihak lain. Toh hal tersebut tidak mempengaruhi kehidupan mereka. Berat, mungkin iya yang melihat, tapi yang merasakan merasa lebih baik, kenapa harus di perdulikan.

    ReplyDelete
  9. Setuju sih sama kelima poin itu, cuma ya gimana.. tetp aja mayoritas masyarakat msih memegang tradisi lama

    ReplyDelete
  10. Ahem topik yang kontroversial. Childfree itu hak masing-masing individu utk childfree biasanya org punya alasan masing-masing. Misal trauma pengasuhan, ekonomi, dendam, dsb. Dari sudut pandang agama beda lagi karena ada konsep hidup setelah mati dan amalan yg tdk terputus (ceritanya begitu). Yang jelas kita bahkan pemerintah harus waspada kalau ada gerakan orang-orang yang memilih childfree hanya karena trend, apalagi yang sampai kampanye atau pengumuman itu adalah gaya hidup. Hendaknya belajar dari ngerinya krisis populasi di Jepang.

    ReplyDelete

If you have no critics you'll likely have no succes ~Malcolm X