A Pinch Of Thought: Mbak Kalis

April 19, 2021

 



Tak kenal maka tak sayang, bahasa puitisnya sih gitu. Udah setahun belakang follow beliau di Instagram dan Twitter, tapi baru beberapa kali membaca tulisannya di mojok dot co.

Btw, kayaknya kalian pada bingung, si Pipit ini ngomongin siapa? Hehehe.. biasa, langsung nyrocos. Aku lagi ngomongin seorang penulis yang bernama Kalis Mardiasih.

Mbak Kalis ini seumuran sama aku, cuman cuman.. edaaan, ini cewek keren banget! Beberapa kali baca tulisan beliau di Mojok, I adore her!

Ada irisan yang sama antara aku sama Mbak Kalis, aku tertarik dengan isu keseteraan gender. Mbak Kalis gencar membicarakan isu ini di sosmednya dan aktif menulis di Mojok. Beliau ini cerdas dan wawasannya luas. Karena itulah aku suka sama tulisan-tulisannya, jadi nambah perspektif baru.

Kemarin, sambil nungguin teman, aku sempetin baca tulisan terbarunya Mbak Kalis yang berjudul Perempuan Pembuang Bayi yang Dimakan Anjing dan Lenyapnya Laki-laki yang Menghamilinya. Waktu membacanya, aku menemukan sebuah jawaban atas pertanyaan yang selalu melintas dalam pikiranku.

Kasus yang pernah aku temui seperti ini,  seorang perempuan muda, usia di awal 20 tahunan, sedang menempuh pendidikannya di perguruan tinggi, memiliki mimpi untuk lulus tepat waktu dan mendapatkan pengalaman kerja, namun dilamar lelaki untuk segera menikah. 

Dirinya menjawab iya, namun hatinya tidak sepenuhnya iya, karena ia memiliki mimpi yang ingin digapai.Takut untuk berkata tidak, apalagi orang tuanya ikut mengiyakan keinginan pihak lelaki.

Lalu muncullah pertanyaan dalam diriku, kenapa kita (khususnya perempuan) sulit menolak dan ketakutan berkata tidak, seakan-akan tidak memiliki pilihan.

Iya, aku tahu semua pilihan ada di tangan masing-masing individu dan masing-masing dari kita yang akan menjalaninya, namun aku ikut berempati ketika pihak perempuan harus merelakan mimpinya, seakan-akan tidak ada pilihan, karena pilihan hidup perempuan hanya dua yaitu menikah dan melahirkan anak.

Kembali pada tulisan Mbak Kalis, jadi dalam tulisan terbarunya itu Mbak Kalis menuliskan bagian terkuat yang membuatku merenung, mungkin inilah salah satu faktor dan jawaban dari pertanyaanku.

Dalam tradisi yang patriarkal, perempuan diajarkan untuk menggantungkan nilai dirinya ke laki-laki. Perempuan remaja yang gelisah untuk dipilih laki-laki, sangat rentan menjadi tak rasional dalam menerima berbagai bentuk manipulasi atas nama cinta.

Dalam kerentanan yang berlapis-lapis itu, perempuan remaja tak bisa membedakan mana cinta dan mana agresi kuasa dari laki-laki yang mendekatinya.

- Kalis Mardiasih

Kalimat yang dituliskan Mbak Kalis bikin aku ngaca, ngelihat ke diriku sendiri, di satu sisi aku beruntung, nilai diriku sebagai perempuan tidak tergerus penuh karena sistem. Aku masih memiliki keberanian untuk bersuara dan berkata tidak di momen-momen tertentu, karena aku sadar aku itu manusia utuh yang merdeka.

Melihat juga pada relasiku. Memiliki partner seperti Hyung bukan berarti aku menggantungkan nilai diriku padanya, aku tetap ingin ada sebagai diriku sendiri, sebagai seseorang yang independent. Dia merupakan support system-ku, bukan penyelamat hidupku.

Gambar: Photo by Matheus Bertelli from Pexels

Baca Artikel Populer Lainnya

7 komentar

  1. mbak kalis ini juga fav aku di mojok
    tulisannya bernas
    beberapa waktu lalu juga baca tentang perempuan dalam aksi terorisme
    ia mengutarakan sebabnya yang begitu kompleks dan engga bisa dinilai dari satu sisi saja
    dari tulisan beliau aku selalu apat cakrawala baru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas, aku juga pas baca itu ngerasa yang.. damn! Mbak Kalis ini makan apa sih? Sumpah tulisannya itu loh, koyok sego padang.. uenak!

      Delete
  2. Istrine si bengal Agus Mulyadi yah... Memang tulisannya bagus.

    Cuma soal gantung bergantung dalam hubungan pria dan wanita... sebenarnya sih akan agak rumit sekali kalau memang mau ditelaah. Tidak semudah mengatakan patriarkat atau matriarkat.

    Soalnya, dalam budaya patriarkat, pada dasarnya di sana juga ada saling keterkaitan dan ketergantungan antara pria dan wanita. Tidak semata bahwa wanita bergantung pada pria...

    Sebuah sistem yang sebenarnya lebih rumit dari yang dibayangkan bahwa pria adalah penguasa dan wanita adalah hamba.

    Sama halnya juga dengan tidak semudah mengatakan bahwa pada masa modern seperti sekarang wanita "independent" dalam hubungan dan tidak menggantungkan diri kepada pria. Rasanya lebih kompleks dan rumit

    Karena kalau dalam hubungan antara dua manusia, seperti hubungan asmara pria dan wanita, sebenarnya di sana ada saling ketergantungan

    Seorang wanita yang menganut dan menerima paham patriarkat pun bukan berarti dia manusia yang tidak utuh dan tidak merdeka.

    Cara pandang dalam hal ini , entahlah, sebaiknya bukan masalah utuh atau tidak, merdeka atau tidak, baik atau jelek.

    Ketika berbicara tentang budaya, tradisi, dan sosial kemasyarakatan, sebaiknya pendekatnnya adalah pemahaman dan bukan pro kontra, jelek atau baik.

    Pertanyaan untuk dipikirkan sajah, pada saat Hyung dan dikau beranjak ke jenjang yang lebih serius lagi, menikah.. Bisakah dilepaskan sepenuhnya dari sistem patriarkat? Ketika dikau menjadi seorang istri, bisakah benar-benar lepas dari sistem patriarkat?


    Banyak sekali hal yang harus dipahami dalam hal ini sebelum memandang sebuah sistem sebagai baik, buruk, mengikat atau merdeka... Kompleks dan rumit karena kita bicara soal manusia...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeeaayy.. akhirnya komen dari Mas Anton datang juga!
      Terima kasih sudah berbagi pemikirannya mas. Aku terkesima sama komenannya Mas Anton pas sampean meninggalkan jejak di blog nya Awl dengan tema tulisan serupa. Jadi aku nungguin nih, karena butuh sudut pandang lain biar berimbang.

      Kalau ditanya, bisa nggak lepas sepenuhnya?
      Tentu tidak! Masih terlintar pemikiran bahwa seharusnya yang berusaha lebih adalah Hyung bukan aku. Yah g bisa dipungkiri, didikan dan kultur lingkungan mempengaruhi, mana pula aku ini anak kandung sistem patriarki.

      Tapi setidaknya, secercah harapan yang dulu aku ragukan, mempertanyakan memang perempuan bisa mandiri dan berdaya? ternyata bisa, dan keraguan itu mulai menipis seiring waktu. Dan yang bikin PD, dapat partner seperti Hyung, yang mau diajak duduk berdua, berdiskusi masalah beginian. Yang g serta merta berkata tidak karena egonya tercoreng. Aku seperti diberi kesempatan bahwa aku berhak memperjuangkan suaraku dan didengarkan oleh Hyung serta dipertimbangkan olehnya.

      Well, I know we are not living in a ideal world, karena kalau Mas Anton setuju-setuju aja di kolom komentar, tidak mempertanyakan A B dan C, nggak seru ih!

      Delete
  3. Hhhmm 🤔 I dont know about this.. tapi setuju sih sama Pak Anton..

    Kalau aku, selama ini nggk pernah nganggep sistem Patriarki atau Matriarki itu sesuatu yg diperdebatkan. Malah sbenernya aku nggk peduli sama sistem pemahaman kaya gini.

    Aku lebih cenderung bebas.

    Masalah perempuan yang ingin menjadi apapun termasuk pemimpin seperti Presiden contohnya.. Aku sih nggak mempermasalahkan ini. Terserahh asalkan tujuannya baik.

    Yg pnting buat aku. Sebagai seorang Pria harus tahu kapan pasang badan saat dibutuhkan.. itu saja. 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Well, bisa jadi sebenernya kamu menganut sistem, tapi bukan patriarki atau matriarki. Bisa jadi kamu seorang libertarian? Who knows..

      Mungkin kesannya mengkotak-kotakkan, tapi secara tidak langsung, sistem ini menjadi salah satu faktor bagaimana seorang individu berpikir. Contoh, kalau kamu ngeh kasus pemerkosaan yang terjadi pada seorang remaja lelaki kemarin. Karena kita hidup dalam sistem patriarki, ketika si korban melaporkan kasusnya, bukannya dukungan yang didapat, malah celaan yang muncul. Dan celaan ini kebanyakan muncul dari kaum lelaki.

      Dalam patriarki, nilai laki-laki itu superior, daripada jenis kelamin lainnya. Saking superiornya, ketika lelaki mengalami pelecehan seksual, dianggap tidak biasa dan seharusnya menikmati pelecehan tersebut. Bahkan sesederhana mencurahkan emosi saja sulit bagi mayoritas lelaki, "Laki-laki haram menangis dan menunjukkan kelemahannya".

      Entah, secara sadar atau tidak, kamu mungkin pernah ada dalam bagian itu, karena aku sebagai anak kandung dari sistem ini, seberapa keras memberontak untuk mengubah mindset, nggak semudah itu. Yah.. setidaknya, dengan mindset kesetaraan gender yang baru aku pelajari, aku jadi punya keberanian, setidaknnya buat bersuara sebagai perempuan

      Delete
  4. aku juga suka sama mbak kalis. Bahkan waktu beliau nikah aku ucapin selamat dan share ig postnya ke ig story ku *oke ini nggak penting hahhaa

    Yang aku suka dari mbak kalis, setiap tulisan (kayaknya) selalu tegas dan teguh pada satu pendirian gitu.
    Ga kayak aku, yang hari ini ngomong A, tapi besok besok baca sesuatu jadi goyah.

    Quotesnya mbak kalis itu mirip lagunya taylor swift. Cause when you're fifteen, somebody tells you they love you.. you gonna believe them.

    ReplyDelete

If you have no critics you'll likely have no succes ~Malcolm X