30 Days Story Challenge

September 04, 2020

 


Pitttt bikin group yokkk, pengen ngelatih speaking ku biar pede ngomong enggresss.

Aku tuh kebanyakan jeda “eh” kalo ngomong pas presentasi.

Makanya suka banget lihat konten-kontenmu yang challenge itu.

Waktu baca DM Instagram dari temenku ini aku seneng banget! Nggak aku sangka kalau ada temen yang mau ikutan dan sama-sama nge push diri sendiri buat bisa. Memakai sosial media kalau hasilnya positif gini bikin seneng nggak sih?

Ngomong-ngomong soal challenge, tahun 2019 kemarin aku mulai keranjingan ikutan tantangan-tantangan sederhana. Tantangan ini bertujuan untuk mengasahkan kemampuanku. Biasanya sih antara berbicara dalam Bahasa Inggris atau menulis cerita biar pas nulis blog nggak kagok-kagok banget.

Jadi waktu temenku nawarin buat bikin speaking challenge, aku semangat dong! Akhirnya aku punya temen yang mau belajar bareng.

Mulai tanggal 1 September kemarin, kami berdua mengikuti challenge yang bernama 30 Days Story Challenge. Jadi selama 30 hari kedepan, kami harus membuat video berbahasa Inggris dan di upload ke Instagram story dengan tema cerita yang sudah kami tentukan sebelumnya. Tujuannya sih simple, jadi niat kami ini ditujukan untuk melatih speaking skill khususnya dalam berbahasa Inggris.

Tyo sendiri bercerita, dia punya perasaan minder untuk ngomong Bahasa Inggris. Lebih tepatnya takut di judge, apalagi kalau tiba-tiba ada grammar nazi yang ngomentarin Bahasa Inggrisnya.

Sadar atau nggak, poin yang disampaikan Tyo bakal relate ke hampir 99% masyarakat Indonesia. Ini jadi salah satu batu sandungan buat kita-kita belajar bukan? Rasanya udah insecure duluan karena takut sama “apa kata orang”.

Aku pun awalnya begitu, pernah nih ada satu waktu aku update Instagram story ku dengan Bahasa Inggris. Aku menulis kata vocation, padahal niatku merajuk pada vacation. Secara aturan kan salah tuh ya, terus ada temen yang DM benerin tulisanku itu. Woow, maluku setengah hidup!

Kek berasanya punya aib dan dosa besar gitu loh, mak tratap!

Coba deh waktu itu mindset ku udah lebih cucok, pasti bukan insecure yang keluar, malah terima kasih.

Daripada mikir, yaampun aku salah, aku nggak bisa. Mending aku ubah cara pikirku dengan bilang, hey harusnya kamu makasih sama temenmu, dia mau berbaik hati untuk memperhatikan dan membantumu lho.

Yes, sejak kejadian itu ditambah ikutan les Bahasa Inggris 2 tahun lalu, aku berterima kasih sekali kepada teman-teman yang dengan sabar dan menyempatkan diri untuk DM terus ngasih tahu aku, salahku di mana dalam berbahasa Inggris.

Aku merasa disayang banget tahu, kalian tuh baik bener sih.

Selain challenge tadi, aku pun memberanikan diri untuk berkomentar dengan Bahasa Inggris di blog milik Rani – ransoeky(dot)blogspot(dot)com. Aku punya kelemahan dalam writing dan spelling, jadi setiap kali aku mencoba menulis kata dalam Bahasa Inggris, selalu aja ketuker-tuker hurufnya.

Contoh, budget. Bisa-bisa aku tulis bugdet.

Sempet aku stress mikirin ini, bahkan melakukan self-diagnose, jangan-jangan aku kena disleksia lagi. I know, ini udah ngawur banget kalau melakukan self-diagnose, dan aku sedang mencoba menerima dan berlatih lebih sering lagi untuk writing dan spelling.

Ketika postingan muncul di blog heypipit(dot)com, kami sudah memasuki hari ke-3 dari 30 Days Story Challenge. Dan jujyur aku nggak sabar buat menyelesaikan setiap temanya. Aku berharap teman-teman di luar sana yang sedang dirundung rasa insecure yang berlebihan bisa lepas dari belenggu itu. Yuk sama-sama kita ubah mindset, biar kita semakin berkembang, tapi nggak ke samping ya..

Baca Artikel Populer Lainnya

14 komentar

  1. Hi, mba Pipit ~

    Dulu jaman SMA, saya termasuk takut bicara bahasa Inggris, hehehe, takut salah, takut nggak bisa pronounce dengan baik, pokoknya takut. Sampai akhirnya saya terjun di dunia kerja yang mengharuskan saya bicara pakai bahasa Inggris sering-sering karena clients and partners saya kebanyakan orang asing, disitu saya seperti 'terjebak' awalnya hahahahaha :""D karena nggak ada pilihan selain harus memberanikan diri, mau nggak mau saya mulai bicara bahasa Inggris, dan ternyata ketakutan saya nggak terjadi sama sekali, orang-orang yang bicara sama saya nggak pernah mempermasalahkan grammar saya yang berantakan, dan saya pun jadi terpacu untuk bicara dengan percaya diri ~ :3

    Menurut saya, bisa itu karena terbiasa, kalau kita membiasakan diri untuk berbicara bahasa Inggris, lama-lama kita jadi terbiasa. Yang tadinya berantakan, pelan-pelan jadi tertata karena ketika bicara kan pasti dua arah, dari situ kita jadi belajar tata bahasa yang salah, cara pronounce yang benar, ini itunya :D hehehe. So, saya salut sama semangat mba Pipit untuk belajar, semoga semakin hari, mba Pipit bisa semakin jago bicara bahasa Inggrisnya ~ hihihi, nanti pankapan komen di blog saya pakai bahasa Inggris juga mbaaa :D semangatttt! <3

    ReplyDelete
  2. Huaaa seru amaat challenge-nya! Nggak pernah terpikir juga untuk bikin speaking challenge gini dan di-upload ke IG story. Meski topiknya lumayan sederhana, tapi ngebayangin harus dibawakan dalam Bahasa Inggris, mendadak aku gagap juga sih 😂

    Aku juga nggak pernah PD ngomong Bahasa Inggris. Bisanya nulis aja, itu pun kadang-kadang suka ngaco grammar-nya lol cuma kadang-kadang ada beberapa penyampaian rasanya lebih pas dalam bahasa Inggris. Dan aku punya pengalaman yang mirip dengan Mba Eno di atas, kalo nggak karena tuntutan pekerjaan, aku juga nggak akan pernah PD cas cis cus ngomong Inggris. Karena setiap hari ketemu customer asing, mau nggak mau ya harus bisa. Awalnya kepaksa, malah suka kayak diem 5 detik untuk mikirin susuan kata selanjutnya 🤣 tapi betul, lama-lama bisa karena terbiasa :D

    Semangat Mba Pipit dalam challenge-nya ini! Sukak deh dengan orang-orang yang ingin belajar terus. Good luck!

    ReplyDelete
  3. Saya gak pernah ikut kursus bahasa Inggris. Pertama karena gak punya uang, kedua karena gak pede. Jadi belajarnya lewat lagu, film, sama buku. Eh sekarang kerjanya di perusahaan yang gak ada satu pun yang berbahasa Indonesia wkwk. Sampai sekarang juga masih sering salah kalau ngomong enggres, tapi terus belajar. Dan yang penting, lawan bicaranya mengerti. Kalau saya sih gitu aja. Di IG juga kalau bikin caption selalu pakai bahasa Inggris. Beberapa teman bilangnya saya sok, padahal di sana tuh saya pakai buat belajar nambah kosakata dan seterusnya. Hehe

    ReplyDelete
  4. Aku juga nggak mahir bahasa Inggris. Hiks.. entah setiap ngomong bahasa Inggris juga nggak PD. medok sekali :) Apalagi sewaktu sekolah kalau bagian Grammar, duh nilainya ancur.
    membaca postingan ini aku setuju sekali, harus bisa mengubah mindset. mengubah pikirab negatif menjadi positif.

    Semangat,Mba Pit untuk challengenya. Menginspirasi banget untuk nggak pernah berhenti belajar. :)

    ReplyDelete
  5. jangan pernah takut mau bicara dalam bahasa inggeris. Ada yang fluent englishnya tetapi writingnya out. Ada yang sebaliknya. Ga pa pa.. usaha tangga kejayaan (aku bicara ini dari pengalaman). Ini juga yang aku selalu nasihati anak-anak, jangan takut mau bicara dalam bahasa inggeris. Usah peduli bila orang mandang serong.

    Apa pun...salken dari Malaysia ya adik.

    ReplyDelete
  6. Sesi curhat tentang kemampuan enggresss nih hahah. Samaaa mba Pipit, kalau ngomong enggres bannyak banget insecure-nya, aku juga sama mba, kalau ada yang benerin pronunciation aku berasa malu setengah hidup, padahal mereka murni bantu hahahaa. Sampai senior aku yang udah fluent English bilang, it's okay, dan encourage aku pakai kata2 manis, yang perlahan membuat aku mulai percaya tapi tetep kadang nggak pede hahha. Kalau ngomong engres aku banyak redundant words-nya mbaaa, kosa kata aku dikit banget haha.

    Baca ini jadi semangat lagi, karena kayaknya aku ngga sendirian haha.

    ReplyDelete
  7. Bentul sekali Pipit... Kadang kita terbelenggu dengan diri sendiri.

    Pengalaman saya sendiri soal bahasa Inggris, yang modal saya hanya belajar otodidak, ternyata orang "bule" sekalipun tidak pernah mempermasalahkan soal grammar. Mereka tidak pernah mengoreksi soal itu dan menganggapnya biasa saja.

    Hanya memang, perlahan tapi pasti, dengan seringnya berlatih dan menggunakan, perbaikan akan terasa.

    Jadi, semangat terus yah menyelesaikan challengenya.

    ReplyDelete
  8. sejak aku menggilai pejen
    rasanya enggak ada insekyur lagi ngomong bahasa inggris mbak
    meski ya tetep medok tapi tetep di bayangain kayak frederika alexis cull wkwk

    iya sih kadang insekyur muncul dan bikin kita engga maju
    tapi kalau udah niat dan seneng insha allah akan bisa kok
    semangat ya buat challengenya

    kalau mau nambah semangat bisa liat curcol puteri indonesia di IG yang sempet insekyur masalah bahasa inggris ini
    halah malah promo tapi lumayan bantu sih suka aja liat effort mereka dan kebodoamatan mereka atas omongan netijen wkwk

    ReplyDelete
  9. Challange nya menarik, mbak. Aku dan teman2 jg sampe sekarang masih dalam Challange serupa. Kami buat grup WA untuk berlatih bicara bahasa inggris. Biasanya, satu pekan bisa 2-3 kali kami telponan/video call dgn seluruh anggota grup. Kami punya topik tertentu yg didiskusikan. Lengkap moderator ny hahaah

    ReplyDelete
  10. Selalu ku tunggu update Instagram storynya mbak :) aku nggak mahir berbahasa inggris, apalagi ngomong dan nulis. Jadi, selama ini paham ajah. Belum bisa memblas hihi

    ReplyDelete
  11. Saya enggak tau kenapa kalau lagi sedih dan marah banget bisa mendadak lancar mengungkapkan perasaan pakai bahasa Inggris, khususnya lewat tulisan. Terlepas itu benar atau enggak grammar-nya. Toh, itu juga baru sebatas kata-kata umum dan bentuknya makian, sih. Sepertinya itu terjadi karena alam bawah sadar. Haha.

    Permasalahan mayoritas orang enggan pakai bahasa Inggris memang cuma takut salah. Bahkan saya cukup sering buka web yang mengecek grammar, apakah kata itu udah bebas dari kesalahan. XD

    Semoga tantangannya bisa mengajak lebih banyak teman, Pit. :D

    ReplyDelete
  12. Bahasa Inggrisku bisa dibilang kurang lancar sih. tapi aku selalu suka memperhatikan orang lain berdialog dengan bahasa asing. Kadang juga dari film.
    belajar melalui challenge memang sangat menarik sih. Melalui challenge kita jadi terbiasa menggunakan bahasa inggris.

    Semangat mbak pipit untuk challenge-nya :D

    ReplyDelete
  13. Mbak Pipit yang semangat ya, insya Allah nanti bisa menyelesaikan challenge ini selama sebulan.

    Kalo aku memang jujur ngga bisa bahasa Inggris, padahal itu bahasa internasional ya yang pastinya berguna sekali kalo keluar negeri atau bertemu orang asing (wisatawan luar negeri) yang kebetulan lagi melancong. Tapi dasarnya akunya saja yang malas belajar bahasa Inggris, padahal sekarang banyak alatnya ya, misalnya google translate.

    ReplyDelete
  14. Tapi aku salut kamu masih mau untuk usaha belajar, bahkan sampai bikin challangenya mba. Ga banyak orang yg sampe mau begitu. Giliran dikasih tau salahnya di mana, langsung pundung. Tapi mba Pipit ga :).

    Bahasa itu intinya harus dipraktekin. Ga bisa cm ngerti teori doang. Pasti gagap juga. Aku kuliah di kampus internasional yg memang students nya semua WNA. Text book bahasa Inggris dan dosen juga orang asing. Mau ga mau harus biasain , makanya aku sempet ambil kls bahasa setahun sblm mulai kuliah. Untungnya pas balik ke Indonesia aku ketrima di bank asing yg mana bisa2nya orang asing dan nasabah yg aku serve di awal bule semuaaaaa hahahahha. Jd setidaknya bahasa inggrisku ttp terasah pas kerja. Sekarang udah resign, daaan aku jd jrg ngomong Inggris. Palingan cuma Ama si kakak :D. Tp jd berasa vocab berkurang Krn bicara Ama anak dan bicara Ama klient kna beda biasanya :D.

    ReplyDelete

If you have no critics you'll likely have no succes ~Malcolm X