I Can't Stop Myself

December 09, 2020

 


Jaman lulus SMA, pas pertama kalinya bikin video dance, aku suka sebel sendiri. Idih.. kenapa sih kamera henpon nggak bisa buat record gerakan dance? Kan sebel yak. Terus keinget video 3gp. 😝

Tapi demi konten, aku rela buat pergi ke rumah temenku yang jauh, cuman buat pinjem kamera. Pokoknya gimana caranya dance-ku ini bisa di-record, nggak mau tahu! Alhasil jadilah 8 dance videos di tahun 2011 gitu lah, dan aku unggah ke youtube.

Gara-gara kengototanku itu, aku jadi belajar video editing pake windows movie maker. Kalau diinget-inget lagi, Berawal dari dance dan merambah ke urusan editing, dari skill ngegoyangin badan, terus ke goyang jari. Sungguh sangat produktif dan kreatif!

Tahun 2016, aku mulai suka ngulik-ngulik urusan foto. Waktu itu aku terinspirasi sama beauty blogger. Tiap kali mereka review produk kecantikan kok fotonya bagus-bagus gitu ya? Jadi mupeng!

Cuman aku sempet pesimis, “Yah, foto dia bagus karena punya kamera yang lensanya bisa ngasih efek bokeh, aku nggak punya dong.”

Nggak tahu gimana ceritanya, tiba-tiba si kalimat pesimis tadi hilang. Mungkin karena aku ngebet banget pingin bikin konten review camilan di blog. Jadilah dengan alat seadanya aku ngejepretin produk-produk yang mau aku review.

Foto buat konten review cemilan circa: 2016

waktu ikutan lomba blog, edit-edit lucu pake photoshop πŸ˜†

Waktu itu alatku cuman handphone OPPO, terus biar fotonya stabil aku beli tripod juga, sambil berdoa, semoga kalau ada duit bisa beli kamera suatu saat nanti, sekarang nyicil tripodnya dulu. Selain dua alat sederhana tadi, aku bikin mini studio dari kardus, supaya fotonya proper dan keliatan oke kalau dilihat.

Dan jadilah seabrek review camilan, dan gara-gara itu juga, nggak disangka-sangka ada yang email dan ngajak kerjasama buat review camilan dan dibayar. πŸ˜†πŸ˜†

Selain ngulik foto, aku juga belajar photo editing di photoshop. Waktu itu aku mikirnya gini. It’s ok aku nggak punya kamera bagus, tapi bukan berarti kreativitasku terhalang gara-gara itu. Makanya putar otak, apa lagi nih yang bisa dikulik? Jadilah belajar photoshop. Nggak disangka-sangka, karena hal ini juga, waktu aku ikutan giveaway nulis blog, dapet juara 3 dong! Salah satu momen yang paling berkesan sepanjang aku ngeblog. πŸ’“πŸ’“

Setahun kemudian aku menemukan istilah, person behind the gun. Dan aku setuju sekali dengan hal itu. Tools yang kita miliki hanyalah sebuah alat bantu. Semua itu tergantung manusianya, mau mengulik dan mengeksekusi idenya walau dalam keterbatasan, atau pasrah aja dan nggak melakukan apa-apa?

Tahun 2020 pastinya udah beda banget dari 2011, kamera smartphone makin canggih, aplikasi editing udah tersebar banyak dan mempermudah kita untuk melakukan editing via handphone. Rasanya gatel kalau tiap kali ada yang bilang, ya foto kamu bagus soalnya kamera yang kamu punya itu kamera mirrorless. Excuse-moi?

Tareekk siiiiss!!! SEMONGKO!

Baca Artikel Populer Lainnya

10 komentar

  1. O ya.. jangan biarkan keterbatasan menghambat kreativitas ya.. hahahaha.. Good senang mendengar anak muda punya semangat seperti ini..

    Keep on exploring dan terus maju ya Pit..

    ReplyDelete
  2. Setuju mba Pipit, hehehehe, kasihan ugha sama content creator, atau para fotografer, karyanya dianggap bagus hanya karena gearnya bagus, jadi yang diapresiasi gearnya bukan skill orangnya. Padahal, karya bisa bagus karena ada skill the creator di sana 🀣

    Kalau cuma karena gear bisa bagus, pasti semua yang pegang kamera sudah jadi fotografer profesional, nyatanya kan enggak 😁 Hehehehehe ~ Dan saya salut, mba Pipit fotonya memang bagus-bagus, jadi nggak heran bisa menang 😍

    ReplyDelete
  3. couldn't agree more.
    karena kamera itu hanyalah tools bagi si pemotretnya yg punya visi dan kreatifitas.
    tapi kadang ada satu hal yang memang hanya bisa diprovide oleh gear atau dalam hal ini adalah lensa.
    misalnya Depth of Field yang hanya bisa dihasilkan dari lensa-lensa tertentu. tapi itu mah teknikal sih, sifatnya gak esensial, karena bukan itu yg terpenting :)

    ReplyDelete
  4. Also practices makes perfect.

    Semoga keniatan dan kegigihan mbak pipit bisa menular kepada ku :") hehe

    ReplyDelete
  5. Karena keterbatasan malah jadi belajar lebih yaaa.
    Coba kalo udah punya 'yang bagus' trus puas,, malah skill-nya nggak nambah.

    Btw, editannya keren euy.

    ReplyDelete
  6. Kalau tahun 2020, malah semakin banyak aplikasi editing yang semakin memudahkan penggunannya. Terus banyak yg bilang editannya bagus..hehehhee

    Aku sangat setuju bahwa kamera itu sebuah alat. Yang paling penting itu skill penggunanya. Meskipun pakai handphone, kalau skillnya bagus dia bakal tahu dia bisa menghasilkan gambar seperti apa.

    Aku banyak belajar dari orang-orang seperti itu mbak pipit. Jadi ga tanya pakai kamera apa, tapi tanya gimana dia ambil gambar tersebut...hehehhee

    Selamat berkarya mbak pipit.
    Tarik sist, Semongkooo...!!!!

    ReplyDelete
  7. Keren sekali memang sister Pipit ini, betul memang kalau alat-alat terbatas itu otak jadi makin aktif bun untuk berputar kreatif gimana biar hasil jadi bagus xD
    And yes I agree with the man behind the gun, ini sejalan sama pendapat om Pinot (ilustrator Indonesia yang tinggal di NY, just in case belum tau).

    ReplyDelete
  8. Saya setuju banget mba, semua tergantung orangnya dan saya pun dulu ngalamin kaya gitu. Saya kepingin banget bisa motret makro serangga tapi gapunya kamera, sebodo amatlah pake hape + lensa makro buat hp, hasilnya si ga terlalu bagus cuma saya banyak belajar dari situ. Belajar akan waktu yg tepat buat motret makro, belajar gimana angle yg bagus dalam mengambil objek serangga, belajar berjuang rela panas dan gatel gatel karena motret di semak semak hehehe.

    ReplyDelete
  9. Mau alatnya secanggih apapun, tapi kalau orang dibaliknya nggak punya skill yang baik, alat tsb nggak akan menolong πŸ˜‚.

    Aku suka semangat yang Kak Pipit selalu tularkan lewat tulisan-tulisan Kakak πŸ˜†
    Kakak selalu mendorong pembaca untuk menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  10. Ihh sukakkk banget sama tulisan ini. Bikin gemes dan menginspirasi 😝😝

    Istilah man behind the gun yang disebutkan Endah itu bener sekali. Inget banget waktu SMA akutu sempet niat banget pengen punya DSLR, padahal deep down I know I don't have that skill mumpuni untuk memakai kamera tersebut. Yaa pake kamera poket aja kadang-kadang bingung mau sok-sok punya DSLR demi foto cakep wkwkwk

    Dan memang iyaa, keterbatasan biasanya malah mancing potensi dalam diri kita. Just like what you did! Itu seneng bangettt gak sih iseng pemotretan cemilan malah dapet sponsored job cemilan juga πŸ˜†

    ReplyDelete

If you have no critics you'll likely have no succes ~Malcolm X