PONDASI

December 04, 2020


 

Waktu masuk kantor di tempat kerja yang baru, aku terkesima banget sama pimpinan kantorku. Terkesima karena karakternya yang tegas dan mengayomi kami para stafnya. Beliau juga yang mempromosikanku untuk berada di posisi ku sekarang.

Jujur awalnya ragu bahkan sempat menghadap terus bilang kalau aku nggak sanggup. Anak kecil, baru lulus kuliah udah disuruh megang duit kantor. Beh rasane wes emoh ae!

Aku stress hampir 4 bulanan menjalani masa transisi ini. Ada aja kejadiannya, tapi bersyukur banget, pimpinanku ini selalu ada dan mau mendengarkan curhatan stafnya. Jadi beliau ngasih win win solution dan advice sekaligus menggembleng diriku.

Kerjaan akhir tahun beres dengan mulus, padahal aku masih anak baru. Salah satu faktornya karena ada kehadiran beliau selaku pemimpin.

Yang paling aku suka dari beliau adalah sikapnya yang diposisikan sebagai bapak untuk anak-anaknya di kantor. Setiap kali ada hal yang berkaitan dengan stafnya dan itu masalah krusial, beliau akan maju, dan siap bertanggungjawab atas kelalaian stafnya. Beliau pernah berkata, kalau staf dia nggak bener, berarti ada yang salah sama manajemenku (cara beliau memimpin), bukan stafnya.

Sampai akhirnya pertanyaan ini muncul. Apakah beliau akan tetap berada di sini sampai pensiun? Karena jujur, nggak rela rasanya kalau beliau harus digeser dan digantikan orang lain.

Di tahun keduaku, tiba-tiba saja ada berita, beliau dimutasi. Aku jujur terkejut, nggak siap dengan pimpinan yang baru. Karena aku takut kalau pengganti beliau tidak sekompeten itu.

Dan yah, seperti yang kalian duga. Di akhir tahun 2018 aku stress parah, tiap ke kantor bawaannya mau nangis, nggak sanggup rasanya ngerjain tugas ini.

Memasuki tahun 2019, aku belajar. Sebelum orang lain memimpin diri kita, coba pimpin diri sendiri dulu. Aku ngerasain gimana rasanya terlalu bergantung sama pimpinanku yang sebelumnya, tanpa ada pondasi pada diriku sendiri. Ketika beliau pergi, pondasi semangatku buat kerja langsung runtuh. Rasanya berat banget mau ngerjain tugas kantor.

Sedikit demi sedikit, membangun kembali pondasi yang kuat, menciptakan sebuah pagar bahwa yang menguasi dan memimpin diriku adalah aku. Pimpinan kantor hanyalah faktor eksternal. Mereka bisa menjadi supporter, obstacle, atau mungkin tidak ada pengaruhnya pada kinerja kita, karena kita tahu, kita adalah leader untuk diri kita sendiri.

Baca Artikel Populer Lainnya

3 komentar

  1. Hahahahahahah.... tiada pesta yang tidak berakhir Pit. Suatu waktu akan terjadi dalam kehidupan manusia.

    Yap betul sekali Pit, pertama jadilah seorang pemimpin bagi diri sendiri, dengan begitu kita mandiri. Karena saya pikir sang bapak pimpinanmu pun memulainya dari langkah itu. Sebelum ia menjadi pemimpin bagi orang lain, ia sudah menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.

    Dan, saya pikir suatu waktu, Pipit akan masuk ke tahap itu juga. Dengan cara pandangmu, saya pikir suatu waktu kamu pun akan seperti "si bapak pimpinanmu" idola mu itu.

    Tidak semua orang bisa berpikir seperti ini Pit.. dan berbahagialah karena kamu sudah masuk ke tahap ini. Banyak orang bahkan terhenti dan tidak masuk ke tahap ini

    ReplyDelete
  2. Kak Pipit, aku kurang lebih juga pernah merasakan hal yang sama dan setelah kejadian berlalu serta pergantian leader, ternyata leader yang baru tidak seperti ekspetasiku, malah lebih baik. So, kadang ekspetasi kita yang membuat kita nggak berani untuk berkembang dan melangkah majuπŸ˜– serta kertergantungan kita terhadapa orang lain yang membuat kita sulit maju. Bersyukur Kak Pipit udah melewati semuanya! 😍
    Kak Pipit, terima kasih untuk berbagi dan memotivasi πŸ₯°

    ReplyDelete
  3. Agree mba Pipit, tulisan ini sangat singkat namun to the point dan saya suka 😍 Hehehehe, saya pribadi belajar dari pengalaman, bahwa sebelum kita bisa memimpin orang lain, kita perlu pimpin diri kita sendiri dulu, dan mba Pipit mungkin sudah waktunya berproses mengikuti jejak langkah sang pemimpin mba sebelumnya 😁

    Dari proses ini, mba akan berkembang, dan nggak ada yang tau, mungkin kelak, mba akan menempati posisi pimpinan dan memiliki banyak staff yang butuh bimbingan mba. So, semangat terus mba, sesuai dengan kata mas Anton, you are so lucky, diberi kesempatan menyadari apa yang 'salah' dan apa yang perlu dilakukan setelahnya. Some people nggak menyadari itu, dan memilih berhenti di tengah jalan πŸ˜†

    I'm sure you are doing great mba, and will always do πŸ˜πŸ’•

    ReplyDelete

If you have no critics you'll likely have no succes ~Malcolm X