One of The Best Things About Blogging

August 03, 2020


Beberapa bulan lalu iseng, iseng baca postingan-postingan lama, dan akhirnya ketemu salah satu postingan di tahun 2013 yang berjudul Pekan Kondom Nasional = Legalisasi Perzinahan Sehat? Postingan ini mewakili diriku 7 tahun yang lalu, yang masih kolot.

Ada 3 hal yang aku highlight dari postinganku tersebut, seperti:

  1.        Berkesimpulan bahwa pekan kondom nasional sebagai bentuk dari legalisasi free sex;
  2.        Menilai orang lain hanya dari penampilannya;
  3.        Tidak melakukan riset sebelum menulis dan membenarkan opini pribadi.

Berkaca pada diriku sendiri 7 tahun yang lalu, sekarang aku tahu kalau akar permasalahannya karena aku terlalu bias dan tidak mau membuka diri untuk melihat sesuatu dari helicopter view.

Untuk diriku yang dulu, let me tell you about these..

Kamu Mulai Belajar dan Membuka Diri Untuk Tahu Kesehatan Seksual

Setahun terakhir ini kamu mulai belajar untuk mencari tahu lebih banyak tentang sexual health. Ada satu peristiwa yang akhirnya membuatmu sadar, penting untuk membekali dirimu atas pengetahuan ini.

Hidup sebagai perempuan di Indonesia, di kelilingi mayoritas masyarakat yang percaya bahwa membicarakan seks itu tabu, ternyata berat. I’m grateful because something bad didn’t happen to us before.

Dari sini kamu mulai belajar hal dasar, semudah mengucapkan atau menulis nama alat kelamin, vagina dan penis. Tidak menggunakan kata ganti, disensor, atau menambah imbuhan maaf. Tidak merasa risih, geli, atau jijik. Karena itu bagian tubuh manusia, sama seperti mata, hidung, telinga, dsb.

Memberanikan diri membawa topik ini ke ranah publik, khususnya circle mu. Belajar menepis rasa sungkan, malu, dan takut di judge. Di relationship mu kali ini, kamu mulai berani menanyakan sexual issues ke partner mu, although we’re not sexually active, it doesn’t mean we can’t talk about sex.

Kamu Mulai Belajar Memahami Arti Don’t Judge A Book By Its Cover

Di postingan kita yang dulu itu, kamu masih sempet-sempetnya menghakimi model yang berpakaian sexy dan mengomentari bentuk tubuhnya. Kalau kamu melihat dirimu yang sekarang, kamu pasti terheran-heran karena aku tidak melihat ada kesalahan dari pakaian dan juga tubuh si model.

Dia mau pakai apa dan mau berbuat apa pada tubuhnya, itu bukan hakmu untuk melebelinya sebagai manusia yang tidak bermoral. You will learn that you need to respect them.

Sebelum Beropini Cobalah Untuk Bersikap Objektif

Ini sering kali terjadi sama kita Pit! Cuman bedanya, aku tidak seceroboh kamu dulu, yang menulis sesuatu tanpa mencari sumber yang kredibel dan cuman modal opini sendiri.

Aku nggak memungkiri kalau kita masih suka menghakimi sesuatu, tapi sekarang aku lebih berhati-hati. Lebih mencoba untuk kritis dan responsive, supaya tidak terkesan bias.

Dan Yang Terakhir..

Terima kasih kamu mau menuliskan pemikiran-pemikiran kita dalam sebuah blog. You know what? I love how we learn to be the best version of ourselves. Ini bener-bener membantuku untuk mengevaluasi perjalanan kita. Aku yang sekarang tidak akan pernah ada tanpa kamu yang dulu. So, once again thank you so much. Hope, after this I can share a lot of things on this blog like before.


Baca Artikel Populer Lainnya

12 komentar

  1. Kadang emang suka agak kaget kalau lihat diri kita di masa lalu. Tanpa disadari kita juga berkembang😁
    Membicarakan soal sex di indonesia emang tabu. Bahkan saya sendiri merasa malu kalau ada di pembicaraan itu, padahal kalau dipikir asalkan itu nggak menjurus ke hal yang buruk atau sekedar pembelajaran aja enggak apa-apa kok. Karena banyak banget hal yang kita abaikan, hanya karena merasa itu tabu untuk dibicarakan.

    ReplyDelete
  2. Kunjungan pertama ke blog ini. Saya sedikit terkejut dan senang ketika melihat banner/ikon kancut kebelenger. Pasalnya ikon tersebut mengingatkan akan masa ngblog dulu. Ternyata aku sejadul itu wkwk.

    Berbicara seks, saya kira saya berada di fase seperti kamu. Mencoba membiasakan diri berbicara seks layaknya menu makan siang. Bisa dibicarakan dengan sangat terbuka tanpa ada tendesi untuk mengganggap negatif atau cabul. Tentu saya mulai dari circle yang paling dekat dan saya kenal.

    ReplyDelete
  3. Blog secara tidak langsung seperti journal ya kak πŸ˜† jadi ketika lihat-lihat tulisan lama, bisa sekalian introspeksi diri ya.
    Bersyukur sekali kalau kak Pipit sekarang sudah lebih open minded, berarti selama 7 tahun ada perkembangan diri yang positif ya πŸ₯³
    Berbicara tentang seks memang sebaiknya jangan dianggap tabu, justru karena dianggap tabu, pengetahuan manusia akan seks jadi sedikit dan itu malah menyebabkan hal-hal yang nggak diinginkan seperti hamil di luar nikah gitu πŸ˜₯
    Semoga masyarakat Indonesia juga bisa lebih terbuka pemikirannya akan hal ini ya πŸ™πŸ»

    ReplyDelete
  4. Jika baca tulisan jadul mah malunya kebangetan euy. Sampai suka enggak percaya saya pernah menulis buruk dan sok tahu begitu.

    Saya mulai berani menuliskan hal-hal yang sekiranya tabu setelah membaca tulisan Eka Kurniawan dan Yusi Avianto. Kalau versi luarnya dari novel duo Murakami (Haruki dan Ryu). Mengisahkan adegan vulgar, bukanlah masalah demi kebutuhan cerita. Selama tokohnya yang bertutur, ya wajar juga menuliskan kata-kata yang selama ini saya pikir kasar atau jorok. Karena begitulah cerminan dari dunia nyata. Sastra enggak melulu harus sopan. Haha.

    ReplyDelete
  5. Manusia akan menjadi dewasa dan belajar dari setiap kesalahannya (ketika ia mau melakukannya). Tidak ada yang salah dengan mengungkapkan pandangan seperti itu 7 tahun yang lalu. Tidak salah juga ketika pandangan itu berubah hari ini.

    Bagaimanapun kita cuma manusia yang bisa berubah, berbuat salah juga.

    Mana yang lebih baik pada akhirnya bersifat relatif dan sangat subyektif.

    ReplyDelete
  6. Sekitar dua tahun lalu, ada komentar masuk ke blog saya. Dia mengomentari tulisan yang sudah saya tulis 5 tahun lalu. Berarti sekarang 7 tahun lalu. Dia protes dan tidak setuju dengan tulisan saya. Ketika saya baca lagi, saya juga jadi tidak setuju sama tulisan yang saya tulis sendiri haha. Tapi tulisannya gak saya hapus. Biar aja jadi pengingat sewaktu-waktu kalau saya sudah berubah dalam pemikiran dan lainnya.

    Sejak belajar melihat banyak hal dari berbagai sudut pandang, saya jadi makin banyak diam di media sosial dan hanya bercerita ke pasangan. Oh iya, sama pasangan yang sekarang udah jalan setahun, kami gak pernah berhubungan seksual tapi sering membahas soal sex issues karena menurut kami penting untuk dibahas terutama karena kami berencana untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.

    Duh maaf jadi curhat. Haha

    ReplyDelete
  7. Kok aku terharu ya baca ini (':

    Ini yang kerap terjadi kalau baca tulisan-tulisan lama di blog. Apalagi ada masanya aku suka nulis blog post dalam bahasa Inggris, dan saat dibaca ulang, astagaaa grammar lo kacau balau, jen! Parah ((: but at least, your tried your best. Meski aku nggak yakin kalo ada yang kebetulan baca, mereka paham nggak ya aku nulis apa hahahaha

    Tapi yess itu kenapa aku juga membuat blog, sebagai rekam jejak perkembangan diri kita, baik itu dalam kepenulisan dan juga sebagai sosok pribadi dalam menjalani hidup (:

    ReplyDelete
  8. Sama euy. Kalau baca2 postingan di blog lama, haduhh betapa sudah sangat berkembang saya sekarang πŸ˜…

    Tapi beruntungnya kita masih punya dokumentasinya ya. Dan aku, semakin kesini, juga semakin mikir kalau mau nulis opini tentang berbagai hal. Karna begitu aku pasang di internet, itu jejak gak akan hilang. Betul2 harus sudah disiapkan secara materi dan sudah riset juga. Bagaimanapun, sebagai penulis, aku harus bertanggungjawab dengan tulisanku. Bukan berarti jadi takut beropini, hanya saja aku membatasi diri untuk beropini di bidang2 yang kupahami saja. Kalau gak terlalu paham, dan opini terlalu subyektif mending kusimpan dalam hati saja.

    ReplyDelete
  9. Wah, sudah lama juga ya ngeblog dari tahun 2013. Kalo saya sebenarnya juga sudah ngeblog tahun itu tapi sayangnya blognya sudah tidak ada karena penyedia layanan blognya bangkrut.πŸ˜‚

    Tak ada yang salah kok jika kita menuliskan apa yang jadi pemikiran kita saat itu, tapi berubah memandang sesuatu lebih objektif itu memang lebih baik.

    ReplyDelete
  10. Kalau saya, as a woman, sungguhlah mengapresiasi mengenai pengetahuan kesehatan seksual.

    Meskipun, as a mother, saya masih harus banyak belajar untuk lebih bijak menyikapi.
    Belajar menebalkan iman anak, karena sebenarnya yang paling menantang itu adalah, saat seorang ibu memastikan anaknya tidak salah persepsi tentang kondom tersebut πŸ˜‚

    ReplyDelete
  11. Dulu sih, aku juga sering memandang sesuatu hanya dari perspektif ku sendiri :p. Menganggab hal begitu udah jelas salah dan menentang norma2. Tapi semakin di umur segini, aku jadi lebih mau untuk menilai segala sesuatu dari banyak sudut pandang :). Ga hanya bisa menyalahkan, tp juga memikirkan apa segi positifnya dari hal tersebut.

    Akupun sering malu sendiri kalo baca tulisan2 lama, ato surat2 yang pernah aku tulis zaman dulu :p. Ga nyangka bisa nulis tulisan selebay itu hahahahah. Pernah surat2 itu aku hancurin malah, saking malunya :p. Tp kalo tulisan blog, ga usah lah. Wlaopun msh alay, tp setidaknya jd pengingat gimana tulisanku yg dulu dan skr :D

    ReplyDelete
  12. Bagus dan suka banget sama topiknya ini mbak apalagi untuk aku yang masih pemula di dunia blogging.

    Judging dan menggunakan personal opini yang bias membuat pikiran kaku sama oponi dan pengetahuan di dunia luar. Kadang awalnya sensitif untuk berfikir, tapi lama-lama 'ngeh' juga tentang opini-opini lain jadi belajar untuk terus open minded terhadap ide-ide baru.
    Terima kasih mba tips-tipsnya ini <3

    ReplyDelete

If you have no critics you'll likely have no succes ~Malcolm X