Kim Ji-yeong, Born in 1982

November 12, 2020



Kim Ji-yeong adalah seorang perempuan yang lahir pada tahun 1982. Ia terlahir dari keluarga yang mengharapkan anak laki-laki. Saat ia tumbuh, masa sekolah dasarnya harus dilalui dengan menjadi bulan-bulanan teman laki-lakinya. Saat menginjak usia remaja, ia disalahkan ayahnya sendiri karena dalam perjalan pulangnya dari sekolah ia diganggu oleh seorang remaja laki-laki.

Kehidupan sebagai manusia dewasa pun tidak mudah, setelah menikah ia melepaskan kariernya demi mengasuh anak dan mengurusi urusan rumah tangga. Berawal dari sini, Ji-yeong mulai bertingkah aneh karena ia mengalami depresi.

Dua paragraf tadi merupakan sinopsis dari buku Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982. Sekilas dalam sinopsisnya, tidak ada yang istimewa, hanya kehidupan seorang Ji-yeong, seorang perempuan biasa. Tapi setelah membaca lebih dalam, buku ini menceritakan bagaimana patriarki dan misoginis bekerja dalam masyarakat. Dalam buku ini Korea Selatan menjadi contoh bahwa dua hal tersebut masih mengikat para perempuannya.

Pada postinganku kali ini mungkin akan sedikit mengandung spoiler dari buku Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982. Karena aku akan memilih beberapa part yang menurutku ironis dan menjadi contoh bahwa patriarki dan misoginis itu tak hanya sekedar mitos.

Buku ini menceritakan secara runtut sesuai dengan timeline kehidupan Kim Ji-yeong. Hal ini bertujuan untuk menyuarakan dan mengkritisi bahwa tidak ada perubahan yang signifikan dari patriarki dan misoginis yang sudah mendarah daging dalam masyarakat dari masa ke masa.

Saat itu pemerintah menetapkan kebijakan pengendalian kelahiran yang diberi nama “keluarga berencana”. Sepuluh tahun lalu, aborsi karena alasan medis diperbolehkan secara hukum, dan “anak perempuan” seolah-olah termasuk alasan medis, membuat pemeriksaan jenis kelamin dan aborsi atas janin anak perempuan meluas. Situasi berlangsung selama tahun 1980-an, ini menimbulkan ketidakseimbangan perbandingan jumlah gender yang memuncak pada awal tahun 1990..

Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 hal. 26-27

Pada part ini, diceritakan Oh Mi-sook, ibu dari Kim Ji-yeong sedang mengandung. Namun ia khawatir karena pada masa itu (sekitar tahun 80-an), memiliki anak perempuan itu bagaikan aib. Yang diakui dan dibanggakan oleh hampir seluruh keluarga pada masa itu adalah anak laki-laki. Tekanan ini membuat Mi-sook depresi, ia memutuskan untuk menggugurkan kandungannya.

Kang Hye-soo berkata bahwa keadaan kantor sedang kacau. Ada kamera tersembunyi yang ditemukan di toilet wanita yang berada di ruang kerja mereka. Pelakunya adalah salah seorang pria berusia 20-an yang bekerja sebagai petugas keamanan

Si petugas keamanan memasang serangkaian foto-foto yang diambilnya secara diam-diam di salah satu situs khusus dewasa

“Tetapi karyawan pria yang diperiksa polisi berkata bahwa kita terlalu berlebihan. Kata mereka, bukan mereka yang memasang kamera itu dan bukan mereka yang mengambil foto-foto itu. Mereka hanya melihat foto-foto itu di sembarang situs, tetapi malah dianggap sebagai pelaku pelecehan seksual. Tapi mereka menyebarkan foto-foto itu. Mereka mendukung kejahatan. Dan mereka tidak sadar itu salah? Benar-benar tidak bisa dipercaya.”

Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 hal. 153-155

Familiar nggak dengan part ini? Kejadian serupa baru saja terjadi di endonesya. Banyak yang nanya link, banyak yang bilang kalau video jenis ini adalah pemersatu bangsa, dan sebagainya. Ironisnya, yang akan disalahkan dan tidak becus adalah pihak perempuan.

Kayaknya lahir jadi perempuan tuh salah. PMS katanya lebay, memilih tidak menikah atau tidak punya anak katanya bukan perempuan seutuhnya, menyalahi kodrat. Jadi korban pelecehan atau kekerasan seksual, bukannya dilindungi tapi dicerca.

Perempuan seakan-akan dikategorikan sebagai masyarakat kelas 2 dan objek seksual. Kesenjangan ini membuat perempuan takut bersuara, takut menyampaikan pendapat, karena dogma yang membelenggu sejak lama. Belum lagi peraturan hukum yang tidak berpihak, it’s complicated.

Dan lebih ironisnya lagi, ketika pratik patriarki dan misoginis dilakukan oleh perempuan sendiri.

Baca Artikel Populer Lainnya

12 komentar

  1. Kim Ji Young ini cukup fenomenal pada saat filmnya ke luar di layar kaca mba. Jadi ingat dulu menonton ini di bioskop Korea, isi bioskopnya 90% wanita. While 10% pria yang kepaksa ikut karena pasangannya yang minta (termasuk si kesayangan) hehehehehe πŸ˜‚

    Cukup kontroversial pada masanya, sampai dapat rating jelek dari para pria. Dan mereka ada yang bilang mau buat tandingannya, pakai nama pria paling pasaran di tahun 1990-an πŸ˜†

    Namun begitu, saya suka filmnya, mba 😍 Ada banyak pelajaran yang bisa ditarik dari sana πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nonton filmnya juga Mbak Eno, malah nonton dulu baru baca novelnya.
      Dua-duanya sama bagus, pesannya dapet.

      Iya, aku juga baca beberapa artikel terkait film ini karena di Korsel kontroversial. Aku baru tahu kalau ada gerakan 4B atau 4 Nos di sana. Apakah mungkin ini salah satu penyebab angka kelahiran di Korsel menurun? Selain pajak dsb, cmiiw.

      Kalau akhirnya para pria yang bersuara, apakah ini tentang toxic masculinity?

      Delete
    2. Menurut saya alasan paling mendasar kenapa angka kelahiran menurun itu karena semakin ke sini masyarakatnya semakin berpikir realistis mba, ditambah biaya hidup di Korea sangat tinggi compare to beberapa negara lainnya.

      Even some of them lebih memilih hidup sendiri karena sadar bahwa punya pasangan, akan menambah cost untuk mereka :""") Ini pula yang salah satu partners saya ceritakan. Dia nggak mau punya pasangan sebab hanya tambah pengeluaran dia. Jadi dia prefer kerja kumpul uang untuk kebutuhan dia. Buat dia, dating atau marriage dan punya anak itu nggak masuk ke dalam rencananya. Phftt.. sedih, tapi saya akui, hidup di Korea agak keras.

      Well, soal toxic masculinity bisa jadi iya atau nggak tergantung sudut pandang masing-masing personal. Si kesayangan sendiri merasa film itu condong fokus ke POV tokoh wanitanya. Dan dia kurang setuju dengan filmnya karena merasa nggak semua pria demikian, dianak emaskan di rumah, melakukan hal-hal abnormal atau bahkan merendahkan wanita hehehe.

      Sebetulnya, sah-sah saja ada film itu nama pun sebuah pemikiran dari penulis bukunya. Mungkin kenapa para pria di Korea nggak terima, karena mereka kawatir film itu jadi patokan orang-orang memukul rata karakter Korean Man. Ditambah film itu tersebar luas di berbagai negara. Mungkin akan lain cerita kalau film itu hanya untuk market di Korea.

      Well, terlepas filmnya yang kontroversial, saya suka sama pesan yang disampaikan. And thankfully, tokoh utama prianya di-setting sebagai pria baik yang menyayangi keluarga dan sadar akan apa yang dialami istrinya. Hehehe. It means, tetap ada hal baik dari POV pria yang ditampilkan :D

      Delete
    3. Kalau yang aku tangkap dari film dan novelnya lebih ke sistem (patriarki dan misoginis) yang membentuk budaya dan kebiasaan masyarakatnya tidak hanya merugikan satu gender atau pihak, tapi semuanya.

      Seperti yang Mbak Eno jelaskan, g semua laki-laki. Bahkan laki-laki pun harus menanggung akibat dari sistem ini. Karena di film pun diperlihatkan, bagaimana si suami berdamai dengan ego dan juga lingkungannya. Ia sayang istri dan anaknya, namun apakah bisa ia meng handle ini? Karena ada value bahwa laki-laki adalah pencari nafkah, tak boleh mengeluh, dan mengumbar perasaannya bahkan ke pasangannya sendiri.

      Btw, terima kasih untuk penjelasan yang lengkap dari Mbak Eno. Jadi punya bahan diskusi pagi ini :)

      Delete
  2. Akhir tahun lalu aku juga sempat me-review novelnya ini, Mbaa. Langsung gatel pengen bahas karena yang aku tahu kalangan idol Kpop yang ketahuan baca buku ini pun langsung 'dihujat' netizen di sana πŸ˜… makanya aku penasaran banget seperti apa buku dan filmnya. Ternyata memang menggiring banyak opini dari berbagai pihak hihi

    Beberapa waktu lalu aku menyempatkan untuk nonton ulang filmnya. Dan aku sadar filmnya jauh lebih hopeful ketimbang novelnya sendiri. Apalagi pas baca bagian POV therapist-nya Kim Ji Yeong. Aku sampai geleng-geleng kepala πŸ˜”

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh iya, pernah baca juga tuh, emang novel sama filmnya se kontroversial itu di sana.
      Yes, aku pun merasa novel dan filmnya ini kayak tim. Jadi pas baca novel dapet cerita yang lengkap, pas nonton film dapat visualisasinya, jadi makin klop karena pesan dan feelnya disajikan dengan kuat.

      Delete
  3. Wahh aku sejujurnya sih belum baca bukunya tapi udah nonton filmnya pas tayang di Indo. Penasaran karena kan di Korea muncul pro kontra banget gara2 buku dan filmnya makanya makin penasaran. Dan sejujurnya aku aja bisa relate banget sama film/bukunya sampe nangis hahaha membayangkan hidup dengan penuh depresi dan disudutkan oleh banyak orang, pilih karier atau keluarga waaaah ini bener-bener menggambarkan situasi perempuan banget sih.

    Dan aku setuju banget Mba, sadar gak sadar zaman skrg emang masih banyak yang kayak meremehkan dan menyudutkan perempuan. Bukan aku feminis atau apa tapi sedih aja kalo kata "perempuan" malah dijadikan alasan atas segala sesuatu, ya kayak yang mba bilang tentang PMS, pilihan2 sulit dan banyak lagi.

    Btw aku setuju banget sama Mba tentang yang "pemersatu bangsa" itu, miris banget kok bangga banget pemersatu bangsanya hal-hal yang zonk gitu kayak ga ada harga dirinya sebagai seorang warga ya Mba πŸ˜₯

    ReplyDelete
  4. aku udah ngantri mau pinjem buku ini lama bangt di ipusnas dan belum dapat juga, hiks

    kmrin-kemarin pada ada movienya, sengaja nggak nonton dan nggak liat spoiler juga biar tahu sendiri, eh baca ini deh jadi tahu dikit2, haha


    patriarki dan misoginis terjadi di mana-mana yaaa. sekarang untung udah banyak lembaga yg mencoba menyatakan kesetaraan laki2 dan perempuan, tapi film belum ada yang semantap kayak film ini yaa.

    ReplyDelete
  5. Sesuai judulnya, Kim Ji Young: Born 1982, maka gak heran kalau karya yang satu ini sangat kontroversial disanaπŸ˜‚ Waktu pertama kali nonton filmnya di cgv pun bisa dibilang 85% penonton di studio isinya perempuan mbak, mungkin karena realitanya kita yg bisa lebih paham dan relate sama isi cerita keseluruhan. Sehingga kebanyakan kaum laki-laki, apalagi yg nggak merasa jadi bagian dari budaya patriarkal dan misoginis ini akan merasa nggak bisa relate dan berpikir filmnya terlalu keperempuanan, padahal menurutku di dalam kisah ini jg bisa tergambar jelas bagaimana budaya itu bisa mengekang beberapa kaum laki-laki untuk terjebak dalam stereotip gender yang kolot. Walau demikian, in the end, semuanya balik lg ke perspektif masing-masing, sih. Since ceritanya juga memang serius, untuk orang-orang yg suka jenis cerita yg entertaining, film ini nggak termasuk karena imo memang alurnya berat. No wonder sampe keluar bioskop aja aku gak berhenti2 nangisnya mbak Pipit😭 huhu semoga semakin banyak film apik yg representatif begini ya. Mungkin suatu waktu bisa ada juga cerita dari sisi laki-laki, entah itu toxic masculinity, atau internalized misandrist. Semoga:')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Btw aku di atas banyak mentionnya soal film maafkan yo mbak, heheheh. Kebetulan belum sempet baca novelnya jadi sampai skrg cuma tau filmnya aja. Tapi aku yakin sih setelah baca post ini pun novelnya nggak kalah keren😍

      Delete
  6. Negara dunia ke-3 macam kita ini kapan mau maju kalau hak-hak perempuan kagak dilindungi. Langkah kecilnya adalah, gak usah nyinyir dan women support women aja deh. Kan gampang...... πŸ˜‚

    Semangat utk kita sbg perempuan yg masih dianggap masyarakat kelas 2 πŸ˜‚

    ReplyDelete
  7. Aku baca buku ini langsung emosi sendiri, langsung trauma inget juga sama kejadian pelecehan-pelecehan yang aku alami pas waktu sekolah dulu kayak yang disenggol orang sembarangan gitu-gitu. Males banget asli sama patriarki, untungnya sekarang udah pada speak up korban-korbannya, nggak kayak dulu yang emang kayak malu banget padahal kita nggak salah. Udah sih intinya RUU PKS plis dong pemerintah ayo disahkan *topik melebar*

    ReplyDelete

If you have no critics you'll likely have no succes ~Malcolm X