I Can't Live Without..

November 27, 2020

 


Sebelum memasuki topik utama hari ini, aku mau kasih tahu.. mohon maklum, udah masuk weekend ini, jadi performa nulisnya bakal nggak se-absurd kemarin. Biasa aja gitu. Tapi cintaku padamu bukanlah cinta biasa, tsaaah~

Hari ini aku disuruh nulis soal addiction. Terus aku coba nih urutin, adiksi aku apa aja? Kayaknya si partner masuk big 3, sebagai manusia biasa, aku mengaku bucin. Tapi diurutan pertama dan kedua kayaknya my smartphone and social media.

Nggak bisa dipungkiri kalau yang ini tuh, ngaku sengaku-ngakunya deh daripada ketahuan terus dinyinyirin!

Adiksi main smartphone dan sosmed tuh rada mengerikan sebenernya, tapi gimana dong (mencari pembenaran), sediet-dietnya buat nggak megang smartphone, tetep aja nggak bisa jauh dari barang ini.

Sebelumnya aku udah nonton The Social Dilemma di Netflix, lumayan ngefek tapi nggak langsung bikin diriku menjauh dari barang ini. Cuman dari documenter ini aku berusaha bijak menggunakannya. Kenapa aku nggak bisa lepas begitu aja dari smartphone dan sosmed?

Komunikasi, semua core circle ku menggunakan aplikasi chat berbasis online dan tentu saja, aku pun harus menggunakannya. Ya kali emak ama bapak aku suruh sms atau telepon, orang tiap kali beli pulsa gunanya buat beli kuota, mana ada sisa? Jadi aku harus menyesuaikan.

Tempat belajar, setahun belakangan ini aku merasa upgrade diri adalah kebutuhan. Dengan adanya internet dan sosmed, cara kita upgrade diri jadi lebih mudah. Banyak mentor online ku yang menggunakan instagram atau twitter untuk membagikan ilmunya. Kan sayang tuh kalau kelewatan. Dengan platform ini, rasanya lebih dekat secara personal dengan mereka terus lebih murah, hohoho~

Mencari inspirasi dan berkreasi, selain menjadi tempat belajar, smartphone jadi wadahku untuk mengeksekusi ide-ide. Contoh, kalau ada sesi foto. Biasanya aku ke pinterest buat nyari inspirasi foto supaya nggak clueless, setelah itu aku bawa ke smartphone notes ku, dan digabungkan di sana sambil dikasih keterangan. Bahkan untuk editing aku lebih memilih smartphone ketimbang di laptop. Soalnya ringkes, cepet, dan hasilnya nggak kalah kece. Apalagi kalau mau dijadikan bahan konten di instagram.

Transaksi elektronik, semenjak perkembangan uang elektronik, rasanya hidup jadi lebih mudah. Mulai dari bayar listrik, pulsa, belanja, bahkan bayar pajak kendaraan bermotor, bisa lewat hp. Pas kencan ama si partner juga selalu bayar pake QRIS, tinggal scan aja beres. Eh investasi juga, tinggal top up via hp. Yaowoh, praktis beud dah! Nb: asal ada duitnya yaa.. Mon maap sekedar mengingatkan πŸ™

Lalu apakah ada cara supaya kita nggak dikendalikan oleh smartphone yang menggoda itu? Well, aku nggak punya cara ekstream, tapi semoga hal-hal kecil ini bisa membantu.

Set timer, di smartphone kita ada menu screen time, dan biasanya di menu ini ada pula pilihan set timer untuk mengontrol waktu penggunaannya. Aku lumayan teradiksi dengan instagram, sejak satu tahun yang lalu, aku memasang timer dengan set time 4 jam. Nah gara-gara nonton The Social Dilemma, aku mulai memangkas waktunya menjadi 2 jam. Yah walaupun suka kebobolan gitu, tapi aku mencoba biar nggak over di sini dan fokus ke banyak hal lainnya.

Greyscale, kenapa kita teradiksi dengan smartphone? Salah satu penyebabnya adalah warna. Warna merah adalah salah satu warna yang mampu menangkap perhatian mata kita. Bisa kalian liat dari LED light yang rata-rata berwarna merah, ya salah satu tujuannya biar kita teradiksi, terus menimbulkan efek psikologi yang lain. Terus apa hubungannya dengan greyscale? Untuk mengelabui mata, soalnya warna hitam putih di layar kan nggak menarik. Aku memasangan greyscale pada smartphone ku saat bekerja. Biar fokus gitu (apalagi kalau pas kerja) dan nggak bolak-balik ngecek hp, padahal nggak ada urgensinya juga. 

Menjauhkan smartphone dari jangkauan tangan. Selama bekerja, aku menaruh smartphone ku di tas atau laci. Baru pas makan siang atau ada kebutuhan, ini barang baru bertengger di meja kerjaku. Mungkin untuk orang-orang yang bekerja dengan smartphone akan kesulitan. Jadi cara ini nggak bisa dilakukan untuk semuanya.

Mencari kesibukan lain, kalau pas weekdays, kerja gitu, aku nggak terlalu bermasalah dengan smartphone. Karena pastinya lebih banyak duduk depan meja kerja dan ngerjain to do list kerjaan. Cuman yang gawat adalah weekend. Saking nggak ngapa-ngapain, pasti ntar larinya ke smartphone. Kadang suka sebel, soalnya harus mengakui kalau aku dikendalikan sama barang ini. Yah walaupun nggak bisa lepas banget, tapi seenggaknya selama weekend, aku nyari kegiatan lain. Entah nyuci baju, nyuci piring, atau nge dance, biar capek terus tidur. Jadi waktuku nggak habis cuman buat hapean doang.

Wooow, ternyata sudah mencapai 600-an kata, udahan ah. Mon maap kalau penutupannya nggak proper. Cuman mau nambahin dikit. Kalau kalian, apa yang kalian lakukan untuk mengurangi adiksi smartphone dan sosmed?

Gambar dari Photo by Tracy Le Blanc from Pexels

Baca Artikel Populer Lainnya

11 komentar

  1. Hemmm.... kayaknya batasan soal adiksi/kecanduan dan "kebutuhan" agak tumpang tindih yah.

    Mau tidak mau di jaman sekarang yang namanya smartphone sudah menjadi bagian hidup, tidak beda dengan sepatu, sendok. Banyak hal yang justru sulit dilakukan tanpa keberadaan sebuah smartphone, misalkan mau chat dengan rekan bisnis atau rekan kerja. Smartphone sudah menjadi kebutuhan masyarakat di era digital seperti sekarang (dan masyarakat setiap jaman pasti punya kebutuhan yang berbeda)

    Pada dasarnya smartphone itu kan sebuah komputer mini untuk membantu kehidupan manusia. Sering menggunakannya tidak berarti kecanduan, coba saja tanyakan para pekerja di kantor, apakah mereka berarti kecanduang komputer?

    Kata kecanduan/adiksi sendiri saya pikir jadi agak rancu dalam hal ini, misalkan seorang bisnisman dengan relasi yang semua memakai ponsel, mau tidak mau ia harus terus menggunakan ponselnya untuk berkomunikasi. Bisakah ini disebut kecanduan? Saya pikir sih tidak Pit.

    Kalau kecanduan menurutku sih ketika kita merasa terus terdorong untuk menggunakan ponsel cerdas padahal tidak ada "keperluan". Misalkan bangun pagi, langsung pegang hape cuma sekedar untuk melihat status tetangga, nah yang kayak gini mungkin bisa masuk kategori kecanduan.

    Kecanduan cenderung melakukan sesuatu untuk "pemuasan" ego kebutuhan psikis si pemakai, bukan pemenuhan kebutuhan

    Kalau yang Pipit jelaskan di atas, saya pikir bukan termasuk adiksi karena memiliki tujuan tertentu.



    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas Anton buat tambahannya.

      Iya juga ya, setelah aku pikir-pikir, bener juga nih pernyataan Mas Anton. Smartphone kan versi mini dari komputer, tapi kenapa orang lebih banyak yang teradiksi dengan smartphone?
      Hm.. ini masih opiniku aja. Dari bentuk dulu, komputer dan compact size nya si notebook atau laptop nggak ringkes buat dibawa kemana-mana, ada effort nya lah kalau mau bawa ini. Beda dengan smartphone, kecil dan ringan, masuk saku oke. Selain size, apps yang diciptakan untuk smarphone lebih beragam dan menyenangkan si pengguna. Ketimbang versi pc. Belum lagi menu-menu yang ditawarkan oleh smartphone, bikin orang makin betah buat berlama-lama.

      Iya betul Mas, tergantung konteksnya lagi. Kalau si user adalah seorang pebisnis, ya g bisa disamakan dengan bocah yang pegang hp cuman buat scrolling ig sama tiktok doang. Karena apa yang dilakukan si pebisnis sudah memperhatikan cost per use, ROI, dll. Sama nih kayak kita juga, dengan blogwalking kita sambil belajar karena dapat insights dari blogger lain.

      Nah kalau di aku, aku masih ada kecanduannya Mas. Jadi tiap bangun pagi, masih suka kecolongan buat buka instagram padahal nggak ada urgensinya. Atau kalau pas lagi bosen, buka instastory atau wa story padahal g ada perlunya juga. Masih ada lack nya di aku, dan sedang berusaha mengubah habit ini.

      Delete
  2. Topik yang menarik, mba Pipit 😁

    Saya pribadi nggak melakukan banyak hal untuk stop diri saya dari smartphone, mungkin karena saya nggak anggap smartphone sebagai sesuatu hal yang negatif, dan sama seperti penjelasan mas Anton, pada penjabaran mba Pipit di atas sebetulnya smartphone itu masuk ke kategori kebutuhan hidup, sudah jadi satu level dengan sandang, pangan, papan sepertinya πŸ˜‚

    Nah, cuma agak sedikit berbeda dengan sosmed, saya akui sosmed bisa buat adiksi kalau kita nggak bisa kontrol diri kita. And so far yang saya lakukan agar nggak adiktif dengan sosmed adalah dengan nggak menggunakannya. Saya sebetulnya fun waktu pakai IG, cuma karena circle IG saya mostly Korean jadi kurang hidup dan membuat saya malas hahahahahaha. Lebih seru main blog yang isinya kebanyakan Indonesian πŸ™ˆ

    Cara saya kontrol diri agar nggak adiksi dengan blog adalah buat timeline, kapan harus fokus blogging, kapan harus prioritaskan real life, kapan bisa asik scroll reading list dan blogwalk, serta kapan harus kerja πŸ˜† Eniho, saya setuju sama greyscale, karena hape saya di-set greyscale juga, mba πŸ˜πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang ambigu Kak kalau bahas beginian, kayak yang Kak Eno jabarkan, udah ada di level kebutuhan pokok ni barang. Kecuali mau frugal living kali ya, hahaha

      Wkakaka.. mungkin vibesnya beda, jadi enakan nimbrung ama kita-kita kek bapak-bapak ngopi di warkop.

      Wow, mau coba juga ah. Bikin timeline gitu ya Kak, jadi tau prioritasnya di mana hari ini.

      Delete
  3. Yang aku lakukan untuk mengurangi adiksi smartphone dan sosmed adalah...baca buku fisik, berkebun, ghibah kpop sama sodaraπŸ˜…

    ReplyDelete
  4. sosial media memang sekarang komplek, semuanya ada di sana, mulai dari kontak, berita, hobi dan sebagainya, agak sulit memang kalo mau menghindar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya g menghindar ya, cuman tau dan bijak menggunakannya.

      Delete
  5. Tahun ini saat pandemi datang, aku benar-benar ngerasain kecanduan dengan smartphone soalnya sampai berjam-jam megang hp terus lama-lama jadi rasanya gatel ingin nyari dan megang hp terus πŸ˜‚πŸ˜‚
    Sampai dimana akhirnya aku dikasih rekomendasi buku "How To Break Up With Your Phone", dari situ aku mulai melonggarkan hubunganku dengan hp sampai pernah 1 hari cuma 1 jam pakai hp agar ketergantungannya berkurang πŸ˜‚
    Sekarang caraku agar berkurang megang hp terus dengan baca buku fisik atau cengo aja lihat pemandangan 🀣🀣🀣 sama matiin notifikasi sih.

    ReplyDelete
  6. HP yang selalu ada di samping kita sih.. Coba tengok semua orang Mau ngapain aja pasti disebelahnya ada HP.. hahaha.
    Saya juga nggk bisa jauh-jauh dari HP tapi saya masih bisa jauh dari sosmed karena saya bukan tipe yang selalu update.. Tapi kalau tiktok beda sih.. wwkwk soalnya banyak video2 lucu disana...
    Tapi emnk bener kata Mba Eno, hp itu skrang malah udh masuk ke kebutuhan primer kayanya yah walaupun nggak bisa dimakan.. hehe

    ReplyDelete
  7. Kalo aku.. hmm.. orangnya butuh pengalihan, kalo ga main hape ya harus 'maenin' sesuatu yang lain dan biasanya kalo ga oprek kamera ya main laptop yg biasanya dipake editing atau nonton film, yaaa.. standar lah, yg kebanyakan orang lakuin jg.

    ReplyDelete

If you have no critics you'll likely have no succes ~Malcolm X