VALUES

November 21, 2020

 


Pas khilaf aku biasanya suka menyalahkan keadaan. Kenapa aku harus lahir di sini? Kenapa aku tidak punya lingkungan yang saling mendukung? Kenapa lingkunganku suka ngatur-ngatur? Terus keinget kata-katanya dr. Jiemi, mencoba memaafkan dan menerima keadaan kita untuk mencapai keadamaian jiwa yang haqiqi. Btw, bagian kedamaian jiwa yang haqiqi itu kata-kataku sendiri, hahaha~

Tapi perjalan menuju legowo itu nggak mudah. Sampai tahun kemarin setiap kali aku dicerca dengan pertanyaan “Kapan nikah?”, “Kamu nggak pingin cepet-cepet gendong anak?”, dan pertanyaan sejenis lainnya, aku langsung emosi. Mind your fucking business!

Aku akan bertanya lagi, “Kenapa kamu marah? Bukannya dengan marah-marah masalah tidak akan selesai? Coba lakukan sesuatu yang bisa membantumu merasa lebih baik.”

Tahap ini memaksaku berpikir keras, apa yang bisa aku lakukan untuk melindungi diriku? Tidak mungkin menjelaskan ke seluruh dunia bahwa tujuanku hidup ke dunia dan nilai kesuksesan versiku bukanlah menikah dan punya anak. Karena tidak semua orang mau mengerti.

Lalu aku bertanya lagi, “Apa tujuanmu hidup? Kalau kamu sudah tahu, fokus saja ke situ.”

Kalau sebelumnya aku bilang kenapa aku lahir di lingkungan yang tidak mendukungku, kenapa tidak mencoba untuk membangun lingkungan baru? Mencari orang-orang baru yang sama vibes nya, as simple as blogging. Dengan menulis dan membaca cerita blogger lain, aku tahu kalau ada orang yang struggle juga sepertiku, so I’m not special, semua orang punya masalahnya masing-masing. Oh dan satu lagi, ternyata menulis itu bisa jadi terapi. So, I’m killing two birds with one stone.

Terus aku belajar dari kata ini, if you fail to plan, you plan to fail. Jadi dari sekarang belajar bikin mind mapping, mind mapping soal diriku sendiri. Mencoba mengurai my needs, my boundaries, my love languages, my weaknesses, my strengths,  dan banyak lagi, pokoknya mencoba mengenal diriku sendiri sebaik mungkin. Karena siapa lagi yang bisa melakukan ini kecuali diri kita?

Kalau kata Mark Manson, essentially, we become more selective about the fucks we’re willing to give. This is something called maturity.

Baca Artikel Populer Lainnya

5 komentar

  1. “Kapan nikah?”, “Kamu nggak pingin cepet-cepet gendong anak?”, wkwkwk pertanyaan yang menusuk

    setuju soal tiap manusia punya masalah masing-masing, malah lebih tidak bagus dari yang kita pikirkan. intinya tetap bersyukur jalanin aja yang ada :)

    ReplyDelete
  2. Sepakat dengan Kak Pipit dan turut senang karena sekarang Kakak udah menjadi pribadi yang lebih baik :D

    Yes. Mengutarakan sesuatu dengan menulis itu benar-benar terapi sekali! I feel it, too! Kadang otak ini terlalu penuh dan ketika dituangkan lewat tulisan, rasanya menjadi lebih baik πŸ₯°

    Semangat selalu, Kak Pipit πŸ’•

    ReplyDelete
  3. Ini aku setuju dan aku banget, kak ...

    Paling enak, paling nyaman itu jadi diri sendiri.
    Ngga ada intervensi dari orang lain.
    Buatku tuh, ...apa yang aku senangi dan tentunya tak merugikan orang lain, ya kujalani :)

    ReplyDelete
  4. Setuju banget sih mba...
    saya juga geram kalau semisal ada orang yg suka nanya-nanya gitu... Kan bingung yah jawabnya..? Jadi paling kalau ada yg nanya urusan pribadi macam gtu tak "Hahahahaah" in aja.. terus minggat.

    Everybody has their own struggles... Dan pertanyaan-pertanyaan seperti nggak bakal ada ujungnya... nggak bakal ada stopnya... :) :) karena pertanyaannya bakal terus berganti.. "Kuliah apa kerja??", "Kok belum kerja2??", "Kok belum punya rumah??", "Kok nggak nikah2??", "kok masih tinggal sama orang tua??" dan "Kok-kok yang lainnnya...

    Yahh namanya juga hidup.. "Kita yg hidup, orang lain yang komentar.." Jadi,, kita harus tetep fokus sama diri sendiri dan orang lain yang peduli sama kita.. Biarlah mereka jadi diri mereka sendiri. Dan kita nggak usah buat ngurusin urusan pribadi mereka.. betul nggak mba??
    hehehe

    ReplyDelete
  5. Akan selalu ada orang-orang annoying yang nanya kapan nikah atau apa gak pingin cepet-cepet gendong anak. Dijawab dengan penjelasan nggak mempan, dicuekin pun tetep aja ga ngerasa dianya kalau udah ganggu hidup orang. Jalan akhir: aku diemin sambil berdoa dalam hati semoga hidupku tenteram, aman, damai, dan kaya raya. Melipir sendiri mereka, tengsin. Kalau masih tetep kekeuh tanya sih fix bebal.
    Follow dr. Jiemi nenangin pikiran nggak sih, aku suka nonton video-videonya di Youtube. Jadi terarah aja ini pikiran dan emosi.

    ReplyDelete

If you have no critics you'll likely have no succes ~Malcolm X